Sosiologi
pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu
sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran
ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim. Perkembangan sosiologi
pembangunan semakin pesat seiring dengan gagalnya program pembangunan yang
disponsori oleh Amerika Serikat pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan
pembangunan dunia ketiga tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti
sosial untuk mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun
menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang kegagalan
pembangunan pada negara dunia ketiga.
Sosiologi
pembangunan membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep
pembangunan. Menurut Webster (1984), terdapat lima dimensi yang perlu untuk
diungkap, antara lain :
- Posisi negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara lain.
- Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.
- Hubungan antara proses budaya dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.
- Aspek sejarah dalam proses pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi.
- Penerapan berbagai teori perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada negara-negara berkembang.
Sosiologi
pembangunan mencoba melengkapi
kajian ekonomi yang selama ini hanya didasarkan pada produktivitas dan efisiensi dalam mengukur keberhasilan pembangunan. Pembangunan sebagai sebuah perubahan sosial yang terencana tidak bisa hanya dijelaskan secara kuantitatif dengan pendekatan ekonomi semata, terdapat aspek tersembunyi jauh pada diri masyarakat seperti persepsi, gaya hidup, motivasi dan budaya yang mempengaruhi pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Sosiologi pembangunan juga berusaha untuk menjelaskan berbagai dampak baik positif maupun negatif dari pembangunan terhadap sosial budaya masyarakat. Berbagai introduksi baik yang berupa teknologi dan nilai-nilai baru dalam proses pembangunan tentu akan membawa dampak pada bangunan sosial yang sudah ada sejak lama.
Sejarah
perkembangan sosiologi pembangunan di Belanda diawali dengan menggunakan
pendekatan sosiologi historis. Sosiologi historis menggunakan perspektif
pertumbuhan dalam mengungkap permasalahan dengan teori dan konsep sosiologi.
Berbagai penelitian yang menggunakan pendekatan historis pada awal
perkembangannya menjadikan daerah kolonial sebagai objek kajian. Berberapa
penelitian yang mengambil objek kajian di Indonesia menjelaskan tentang
berbagai dampak pembangunan seperti lahirnya konsep shared proverty oleh
Geertz
Pendekatan
kedua yang muncul setelah pendekatan sosiologi historis adalah ekonomi politik.
Aliran ini berangkat dari keterbelakangan yang dialami oleh negara dunia
ketiga. Pendekatan ekonomi politik memberikan gambaran tentang secara ekonomi
antara negara maju dan negara miskin. Objek penelitian pendekatan ekonomi
politik adalah negara dunia ketiga di Amerika Latin. Kelompok yang menggunakan
aliran ini kemudian mengembangkan teori dependensi. Sedangkan endekatan yang
ketiga adalah sosiologi modernisasi. Aliran ini kemudian berkembang menjadi
teori modernisasi.
Pendekatan
yang keempat adalah tradisi antropologi marxis. Pokok kajian pendekatan ini
adalah cara produksi yang dominan di Amerika Latin. Perspektif cara berproduksi
tidak dapat menghasilkan pemecahan pada masalah-masalah pembangunan dan
kebijaksanaan pembangunan.
Pendekatan
terakhir adalah sosiologi terapan. Pendekatan sosiologi terapan adalah pada
kajian pembangunan secara mikro. Para ahli sosiologi terapan berusaha
memberikan data praktis tingkat lokal kepada pengambil kebijakan atau pengambil
kebijakan. Kelemahan pendekatan ini adalah miskin akan teori serta hasil
penelitian yang didapat kurang bisa ditarik menjadi sebuah model yang general.
Penjelasan
tentang dunia ketiga disampaikan oleh Webster (1984), yang mencoba mengulas
tentang negara dunia ketiga yang dicirikan sebagai negara miskin yang masih
terbelakang dan secara ekonomi masih bertumpu pada pertanian. Tekanan utama
dalam membedakan negara-negara di dunia didasarkan pada konsep kesejahteraan
yang pada akhirnya terdapat dua kutub yaitu negara kaya dan negara miskin.
Tingkat kesejahteraan suatu negara yang hanya didasarkan pada GNP ternyata
memiliki beberapa kelemahan antara lain GNP hanya mencerminkan akumulasi pada
tingkatan suatu negara dan tidak mencerminkan distribusi sumberdaya antar
penduduknya, GNP telah menghilangkan beberapa kegiatan yang memiliki potensi
nilai ekonomi, GNP lebih mengutamakan pengukuran secara kuantitatif saja.
Teori
pembangunan mengerucut pada dua buah teori besar, yaitu teori modernisasi dan
teori dependensi. Dua teori ini saling bertolak belakang dan merupakan sebuah
pertarungan paradigma hingga saat ini. Teori modernisasi merupakan hasil dari
keberhasilan Amerika Serikat dalam membawa pembangunan ekonomi di negara-negara
eropa. Sedangkan kegagalan pembangunan di Afrika, Amerika Latin dan Asia menjadi
awal lahirnya teori dependensi.
Teori
Modernisasi berasal dari dua teori dasar yaitu teori pendekatan psikologis dan
teori pendekatan budaya. Teori pendekatan psikologis menekankan bahwa
pembangunan ekonomi yang gagal pada negara berkembang disebabkan oleh
mentalitas masyarakatnya. Menurut teori ini, keberhasilan pambangunan
mensyaratkan adanya perubahan sikap mental penduduk negara berkembang.
Sedangkan teori pendekatan kebudayaan lebih melihat kegagalan pembangunan pada
negara berkembang disebabkan oleh ketidaksiapan tata nilai yang ada dalam
masyarakatnya. Secara garis besar teori modernisasi merupakan perpaduan antara
sosiologi, psikologi dan ekonomi. Teori dasar yang menjadi landasan teori
modernisasi adalah ide Durkheim dan Weber
Kritik
terhadap teori modernisasi lahir seiring dengan kegagalan pembangunan di negara
dunia ketiga dan berkembang menjadi sebuah teori baru yaitu teori dependensi.
Frank (1984) mencoba mengembangkan teori dependensi dan mengemukakan pendapat
bahwa keterbelakangan pada negara dunia ketiga justru disebabkan oleh kontak
dengan negara maju. Teori dependensi menjadi sebuah perlawanan terhadap teori
modernisasi yang menyatakan untuk mencapai tahap kemajuan, sebuah negara
berkembang harus meniru teknologi dan budaya negara maju. Frank memberikan
kritiknya terhadap pendekatan-pendekatan yang menjadi rujukan teori
modernisasi, antara lain pendekatan indeks tipe ideal, pendekatan difusionis
dan pendekatan psikologis.
Teori
dependensi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang kapitalisme dan konflik
kelas. Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan
bagi masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan
kapitalisme adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi
menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh yang tidak memiliki akses.
Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan perjuangan
merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakat
tanpa kelas.
Eksploitas
juga dialami oleh negara dunia ketiga. Proses eksploitasi yang dilakukan oleh
negara maju dapat dijelaskan dalam tiga bagian, yaitu pedagang kapitalis,
kolonialisme dan neo-kolonialisme. Tahap awal yaitu masa pedagang kapitalis.
Negara-negara Eropa berusaha berusaha untuk mendapatkan sumberdaya alam yang
ada di negara dunia ketiga melalui kegiatan perdagangan. Perdagangan ini
berkembang dan pada prakteknya merupakan suatu bentuk eksploitasi terhada
sumberdaya negara dunia ketiga. Pemanfaatan tenaga kerja yang murah yaitu sistem
perbudakan menjadikan para pedagang kolonial mampu meraup keuntungan yang
sangat besar. Eksploitasi terus berlanjut hingga memunculkan ide adanya
kolonialisme. Asumsi yang berkembang di negara kapitalis adalah peningkatan
keuntungan serta kekuatan kontrol atas sumberdaya yang ada di negara miskin.
Seiring berakhirnya era kolonialisme timbul sebuah era baru yang dikenal dengan
neo-kolonialisme. Penjajahan yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara
dunia ketiga pada dasarnya masih tetap berlangsung dengan bermunculannya
perusahaan multinasional. Negara dunia ketiga menjadi salah satu sarana
penyedia tenaga kerja murah dan sumber daya alam yang melimpah, selain itu
jumlah penduduk yang relatif besar menjadi potensi pasar tersendiri. Ketiga
tahap inilah yang semakin memperpuruk kondisi negara dunia ketiga.
Daftar
Rujukan
Andrew,
Webster (1984). “Introduction to the Sociology of Development”.
Cambridge: Macmillan. (pp 1-14)
Carle
C. Zimmerman and Richard E. Du Wors (1970). “Sociology of Underdevelopment”.
Vancouver: The Copp Clark Publishing Company. (pp 25-35)
Frank,
Andre Gunder. (1984). “Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi”.
Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. (pp 1-32)
Norman,
Long (2001). “Development Sociology A Actor Perspektif”. London &
Newyork: Routledge. (pp 1-29)
Philip
Quarles van Ufford, Frans Husken, dan Dirk Kruijt (eds) (1989). “Tendensi
dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan”. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
(pp 1-18)
http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/sosiologi-pembangunan-pengertian-prinsip-prinsip-dan-aspek-aspeknya/
Pembangunan
merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terncana melalui berbagai
macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
Bangsa Indonesia seperti termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
telah mencantumkan tujuan pembangunan nasionalnya. Kesejahteraan masyarakat
adalah suatu keadaan yang selalu menjadi cita-cita seluruh bangsa di dunia ini.
Berbagai teori tentang pembangunan telah banyak dikeluarkan oleh ahli-ahli
sosial barat, salah satunya yang juga dianut oleh Bangsa Indonesia dalam
program pembangunannya adalah teori modernisasi. Modernisasi merupakan
tanggapan ilmuan sosial barat terhadap tantangan yang dihadapi oleh negara
dunia kedua setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Modernisasi
menjadi sebuah model pembangunan yang berkembang dengan pesat seiring
keberhasilan negara dunia kedua. Negara dunia ketiga juga tidak luput oleh
sentuhan modernisasi ala barat tersebut. berbagai program bantuan dari negara
maju untuk negara dunia berkembang dengan mengatasnamakan sosial dan
kemanusiaan semakin meningkat jumlahnya. Namun demikian kegagalan pembangunan
ala modernisasi di negara dunia ketiga menjadi sebuah pertanyaan serius untuk
dijawab. Beberapa ilmuan sosial dengan gencar menyerang modernisasi atas
kegagalannya ini. Modernisasi dianggap tidak ubahnya sebagai bentuk
kolonialisme gaya baru, bahkan Dube (1988) menyebutnya seolah musang berbulu
domba.
Modernisasi;
Konsep Awal Spencer, Optimisme Schoorl dan Pesimisme Dube
Pemikiran
Herbert Spencer (1820-1903), sangat dipengaruhi oleh ahli biologi pencetus ide
evolusi sebagai proses seleksi alam, Charles Darwin, dengan menunjukkan bahwa
perubahan sosial juga adalah proses seleksi. Masyarakat berkembang dengan
paradigma Darwinian: ada proses seleksi di dalam masyarakat kita atas
individu-individunya. Spencer menganalogikan masyarakat sebagai layaknya
perkembangan mahkluk hidup. Manusia dan masyarakat termasuk didalamnya
kebudayaan mengalami perkembangan secara bertahap. Mula-mula berasal dari
bentuk yang sederhana kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks
menuju tahap akhir yang sempurna.
Menurut
Spencer, suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan
terjadi diferensiasi antar organ-organnya. Kesempurnaan organisme dicirikan
oleh kompleksitas, differensiasi dan integrasi. Perkembangan masyarakat pada
dasarnya berarti pertambahan diferensiasi dan integrasi, pembagian kerja dan
perubahan dari keadaan homogen menjadi heterogen. Spencer berusaha meyakinkan
bahwa masyarakat tanpa diferensiasi pada tahap pra industri secara intern
justru tidak stabil yang disebabkan oleh pertentangan di antara mereka sendiri.
Pada masyarakat industri yang telah terdiferensiasi dengan mantap akan terjadi
suatu stabilitas menuju kehidupan yang damai. Masyarakat industri ditandai
dengan meningkatnya perlindungan atas hak individu, berkurangnya kekuasaan
pemerintah, berakhirnya peperangan antar negara, terhapusnya batas-batas negara
dan terwujudnya masyarakat global
Pemikiran
Spencer dapat dikatakan sebagai dasar dalam teori modernisasi, walaupun Webster
(1984) tidak memasukkan nama Spencer sebagai dasar pemikiran teori modernisasi.
Teorinya tentang evolusi masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat
industri yang harus dilalui melalui perubahan struktur dan fungsi serta
kompleksitas organisasi senada dengan asumsi dasar konsep modernisasi yang
disampaikan oleh Schoorl (1980) dan Dube (1988). Asumsi modernisasi yang
disampaikan oleh Schoorl melihat modernisasi sebagai suatu proses transformasi,
suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Dibidang ekonomi,
modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri dengan pertumbuhan ekonomi
sebagai akses utama. Berhubung dengan perkembangan ekonomi, sebagian penduduk
tempat tinggalnya tergeser ke lingkungan kota-kota. Masyarakat modern telah
tumbuh tipe kepribadian tertentu yang dominan. Tipe kepribadian seperti itu
menyebabkan orang dapat hidup di dalam dan memelihara masyarakat modern.
Sedangkan
Dube berpendapat bahwa terdapat tiga asumsi dasar konsep modernisasi yaitu
ketiadaan semangat pembangunan harus dilakukan melalui pemecahan masalah
kemanusiaan dan pemenuhan standart kehidupan yang layak, modernisasi
membutuhkan usaha keras dari individu dan kerjasama dalam kelompok, kemampuan
kerjasama dalam kelompok sangat dibutuhkan untuk menjalankan organisasi modern
yang sangat kompleks dan organisasi kompleks membutuhkan perubahan kepribadian
(sikap mental) serta perubahan pada struktur sosial
dan tata nilai. Kedua asumsi tersebut apabila disandingkan dengan pemikiran
Spencer tentang proses evolusi sosial pada kelompok masyarakat, terdapat
kesamaan. Tujuan akhir dari modernisasi menurut Schoorl dan Dube adalah
terwujudnya masyarakat modern yang dicirikan oleh kompleksitas organisasi serta
perubahan fungsi dan struktur masyarakat. Secara lebih jelas Schoorl menyajikan
proses petumbuhan struktur sosial yang dimulai dari proses perbesaran skala
melalui integrasi. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan diferensiasi hingga
pembentukan stratifikasi dan hirarki
Ciri
manusia modern menurut Dube ditentukan oleh struktur, institusi, sikap dan
perubahan nilai pada pribadi, sosial dan budaya. Masyarakat modern mampu
menerima dan menghasilkan inovasi baru, membangun kekuatan bersama serta
meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Oleh karenanya modernisasi
sangat memerlukan hubungan yang selaras antara kepribadian dan sistem sosial
budaya. Sifat terpenting dari modernisasi adalah rasionalitas. Kemampuan
berpikir secara rasional sangat dituntut dalam proses modernisasi. Kemampuan
berpikir secara rasional menjadi sangat penting dalam menjelaskan berbagai
gejala sosial yang ada. Masyarakat modern tidak mengenal lagi penjelasan yang
irasional seperti yang dikenal oleh masyarakat tradisional. Rasionalitas
menjadi dasar dan karakter pada hubungan antar individu dan pandangan
masyarakat terhadap masa depan yang mereka idam-idamkan. Hal yang sama
disampaikan oleh Schoorl, walaupun tidak sebegitu mendetail seperti Dube. Namun
demikian terdapat ciri penting yang diungkapkan Schoorl yaitu konsep masyarakat
plural yang diidentikkan dengan masyarakat modern. Masyarakat plural merupakan
masyarakat yang telah mengalami perubahan struktur dan stratifikasi sosial.
Lerner
dalam Dube (1988) menyatakan bahwa kepribadian modern dicirikan oleh :
- Empati : kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
- Mobilitas : kemampuan untuk melakukan “gerak sosial” atau dengan kata lain kemampuan “beradaptasi”. Pada masyarakat modern sangat memungkinkan terdapat perubahan status dan peran atau peran ganda. Sistem stratifikasi yang terbuka sangat memungkinkan individu untuk berpindah status.
- Partisipasi : Masyarakat modern sangat berbeda dengan masyarakat tradisional yang kurang memperhatikan partisipasi individunya. Pada masyarakat tradisional individu cenderung pasif pada keseluruhan proses sosial, sebaliknya pada masyarakat modern keaktifan individu sangat diperlukan sehingga dapat memunculkan gagasan baru dalam pengambilan keputusan.
Konsep
yang disampaikan oleh Lerner tersebut semakin memperkokoh ciri masyarakat
modern Schoorl, yaitu pluralitas dan demokrasi. Perkembangan masyarakat
tradisional menuju masyarakat modern baik yang diajukan oleh Schoorl maupun
Dube tak ubahnya analogi pertumbuhan biologis mahkluk hidup, suatu analogi yang
disampaikan oleh Spencer.
Schoorl
dan Dube yang keduanya sama-sama mengulas masalah modernisasi menunjukkan ada
perbedaan pandangan. Schoorl cenderung optimis melihat modernisasi sebagai
bentuk teori pembangunan bagi negara dunia ketiga, sebaliknya Dube mengkritik
modernisasi dengan mengungkapkan kelemahan-kelemahannya. Schoorl bahkan
menawarkan modernisasi di segala bidang sebagai sebuah kewajiban negara
berkembang apabila ingin menjadi negara maju, tidak terkecuali modernisasi
pedesaan.
Modernisasi
yang lahir di Barat akan cenderung ke arah Westernisasi, memiliki tekanan yang
kuat meskipun unsur-unsur tertentu dalam kebudayaan asli negara ketiga dapat
selalu eksis, namun setidaknya akan muncul ciri kebudayaan barat dalam
kebudayaannya (Schoorl, 1988). Schoorl membela modernisasi karena dengan
gamblang menyatakan modernisasi lebih baik dari sekedar westernisasi. Dube
memberikan pernyataan yang tegas bahkan cenderung memojokkan modernisasi dengan
mengungkapkan berbagai kelemahan modernisasi, antara lain keterlibatan negara
berkembang diabaikan, konsep persamaan hak dan keadilan sosial tidak menjadi
sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Lebih lanjut Dube menjelaskan kelemahan
modernisasi antara lain :
- Modernisasi yang mendasarkan pada penggunaan ilumu pengetahuan dan teknologi pada organisasi modern tidak dapat diikuti oleh semua negara.
- Tidak adanya indikator sosial pada modernisasi.
- Keterlibatan negara berkembang diabaikan, konsep persamaan hak dan keadilan sosial antara negara maju dan berkembang tidak menjadi sesuatu yang penting untuk dibicarakan.
- Modernisasi yang mendasarkan pada penggunaan iptek pada organisasi modern tidak dapat diikuti oleh semua negara.
- Tidak adanya indikator sosial pada modernisasi.
- Keberhasilan negara barat dalam melakukan modernisasi disebabkan oleh kekuasaan kolonial yang mereka miliki sehingga mampu mengeruk SDA dengan mudah dari negara berkembang dengan murah dan mudah.
Keberhasilan
negara barat dalam melakukan modernisasi disebabkan oleh kekuasaan kolonial
yang mereka miliki sehingga mampu mengeruk sumberdaya alam dari negara
berkembang dengan murah dan mudah. Modernisasi tidak ubahnya seperti
kolonialisme gaya baru dan engara maju diibaratkan sebagai musang berbulu domba
oleh Dube. Dube selain mengkritik modernisasi juga memberikan berbagai masukan
untuk memperbaiki modernisasi. Pendekatan-pendekatan yang digunakan lebih “memanusiakan
manusia”
Kegagalan
Modernisasi; Kajian Empirik Dove dan Sajogyo
Pembangunan
yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia selama ini juga tidak lepas dari
pendekatan modernisasi. Asumsi modernisasi sebagai jalan satu-satunya dalam
pembangunan menyebabkan beberapa permasalahan baru yang hingga kini menjadi
masalah krusial Bangsa Indonesia. Penelitian tentang modernisasi di Indonesia
yang dilakukan oleh Sajogyo (1982) dan Dove (1988). Kedua hasil penelitian
mengupas dampak modernisasi di beberapa wilayah Indonesia. Hasil penelitian
keduanya menunjukkan dampak negatif modernisasi di daerah pedesaan. Dove
mengulas lebih jauh kegagalan modernisasi sebagai akibat benturan dua budaya
yang berbeda dan adanya kecenderungan penghilangan kebudayaan lokal dengan
nilai budaya baru. Budaya baru yang masuk bersama dengan modernisasi.
Dove
dalam penelitiannya di membagi dampak modernisasi menjadi empat aspek yaitu
ideologi, ekonomi, ekologi dan hubungan sosial. Aspek ideologi sebagai
kegagalan modernisasi mengambil contoh di daerah Sulawesi Selatan dan Jawa
Tengah. Penelitian Dove menunjukkan bahwa modernisasi yang terjadi pada Suku
Wana telah mengakibatkan tergusurnya agama lokal yang telah mereka anut sejak
lama dan digantikan oleh agama baru. Modernisasi seolah menjadi sebuah kekuatan
dahsyat yang mampu membelenggu kebebasan asasi manusia termasuk di dalamnya
kebebasan beragama. Pengetahuan lokal masyarakat juga menjadi sebuah komoditas
jajahan bagi modernisasi. Pengetahuan lokal yang sebelumnya dapat menyelesaikan
permasalahan masyarakat harus serta merta digantikan oleh pengetahuan baru yang
dianggap lebih superior.Sajogyo membahas proses modernisasi di Jawa yang
menyebabkan perubahan budaya masyarakat. Masyarakat Jawa dengan tipe ekologi
sawah selama ini dikenal dengan “budaya padi” menjadi “budaya tebu”. Perubahan
budaya ini menyebabkan perubahan pola pembagian kerja pria dan wanita.
Munsulnya konsep sewa lahan serta batas kepemilikan lahan minimal yang identik
dengan kemiskinan menjadi berubah. Pola perkebunan tebu yang membutuhkan modal
lebih besar dibandingkan padi menyebabkan petani menjadi tidak merdeka dalam
mengusahakan lahannya. Pola hubungan antara petani dan pabrik gula cenderung
lebih menggambarkan eksploitasi petani sehingga semakin memarjinalkan petani
Penutup;
Modernisasi, Masih Bisakah Dipertahankan ?
Berbagai
ulasan tentang modernisasi yang telah disajikan di depan membawa kita pada
pertanyaan akhir yang layak untuk didiskusikan. Modernisasi masih bisakah
dipertahankan sebagai perspektif pembangunan bangsa kita. Modernisasi tentu
harus kita oleh lebih jauh lagi dan tidak menerimanya sebagai teori Tuhan yang
berharga mati. Perbaikan-perbaikan konsep modernisasi yang diselaraskan dengan
budaya serta pengetahuan lokal masyarakat akan menjadi sebuah konsep
pembangunan yang berwawasan lingkungan dan kemanusiaan.
DAFTAR
RUJUKAN
Dove,
Michael R (ed). 1985. Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam
Modernisasi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Dube,
S.C. 1988. Modernization and Development: The Search for Alternative
Paradigms. Zed Books Ltd, London.
Sajogyo.
1982. Modernization Without Development. The Journal of Social
Studies. Bacca, Bangladesh.
Schoorl,
J.W. 1980. Modernisasi: Pengantar sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang. PT. Gramedia, Jakarta.
Spencer,
Herbert.1963. ‘The Evolution of Societies’. Pp 9-13 in Etzioni, A. &
Halevy, Eva Etzioni- (eds). Social Changes: Sources, Patterns and
Consequences. Basic Books, New York.
No comments:
Post a Comment