Sunday, 5 August 2012

Humanisme


    Dalam tatanan dunia yang didominasi Barat dewasa ini banyak orang mengagumi demokrasi. Dalam sejarahnya, demokrasi adalah kelanjutan dari humanisme seperti dirintis dan dipahami para pemikir Yunani Kuno. Perkataan “demokrasi” itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, dan ide tentang demokrasi, menurut pandangan orang-orang Barat, juga berasal dari pemikiran orang-orang Yunani.

    Tetapi Humanisme Yunani telah
padam dan mati sejak ribuan tahun yang lalu. Kemudian ada indikasi bahwa orang-orang Barat sadar kembali tentang hubungan humanisme itu setelah berkenalan dengan Islam. Hal ini terbukti dari pembukaan orasi ilmiah yang dibuat oleh Giovanni Pico della Mirandola. seorang failasuf humanis zaman Renaissance Eropa.

    Didepan para pemimpin gereja, Mirandola memulai pidatonya demikian: “Saya telah membaca dalam berbagai catatan orang-orang Arab, wahai para Bapak yang suci, bahwa Abdullah seorang Saracen (Muslim Arab), ketika ditanya apakah kiranya yang ada dipanggung dunia ini, sebagai mana adanya, yang dapat dipandang sebagai paling menakjubkan, menjawab, “Tidak ada sesuatu yang dapat dipandang lebih menakjubkan daripada manusia.” Sejalan dengan pendapat ini ialah ucapan Hermes Trimegistus: “Suatu mukjizat yang agung, wahai Asclepius, ialah manusia.” (Ernst Cassirer, dll. penyunting, The Renaissance Philosophy of Man, The University of Chicago Press, Chicago, 1948, h. 223)

    Dalam kutipan itu dapat dibaca bahwa Miranolla membandingkan apa yang dibacanya dalam buku-buku kaum Muslim denbgan ucapan seorang failasuf Yunani Kuno, Hermes Timegistus kepada Asclepius. Keduanya menyatakan adanya harkat dan martabat yang amat tinggi pada manusia. Inilah pangkal pandangan kemanusiaan atau humanisme. Eropa (Barat) memang kemudian menganut humanisme yang berakar pada filsafat Yunani. Tetapi humanisme itu kemudian lepas dari bingkai ajaran keagamaan, dan berkembang menjadi unsur penting dalam pandangan keduniawian Brata, yaitu sekularisme.

    Sekarang humanisme yang sekularistis itu menjadi sasaran kaum pascamodernis, meskipun mereka itu juga belum dapat menemukan kejelasan tentang faham alternatifnya, dan masih diliputi kebingungan besar. Mengenai kebingungan ini, seorang pemikir, failasuf, dan ahli perbandingan agama, Huston Smith, mengatakan, “tidak adanya model untuk dunia adalah definisi paling mendalam pascamodernisme dan kebingungan zaman kita. Dua hal ini hampir-hampir menjadi satu dan sama. Sebauah resensi baru-baru ini atas delapan buah buku, semuanya mencantumkan perkataan, “pascamodernisme” dalam judul-judulnya, mengalami jalan buntu dengan kesimpulan bahwa tidak lagi seorangpun tahu apa arti perkataan ini. Ini benar jika berada bersama orang-orang yang pandai, tetapi suatu titik temu yang sangat bermanfaat melandasi definisi-definisi mereka.

    Tanyalah kepada diri anda sendiri jika Anda memang tahu apa yang sedang terjadi. Kalau jawab anda adalah tidak, anda adalah seorang pascamodern. “Siapa saja yang pada zaman ini tidak bingung,” kata Simone Weil, “dia semata-mata tidak berfikir dengan benar.” (Huston Smith, Forgetten Truth, San Fransisco, Harper Collins, 1992, h. Vi-vii)

    Jadi kebingungan dan keadaan tidak lagi tahu apa yang sedang terjadi adalah ciri utama zaman kita sekarang. Inilah pascamodernisme. Maka jika pascamodernisme itu merupakan sebuah indikasi perkembangan zaman pada tahap perkembangan sekarang ini, umat manusia secara keseluruhan nampaknya memerlukan pegangan baru. Tetapi pegangan baru itu, demi otentisitasnya sendiri, haruslah orisinil, artinya, manusia harus kembali kepada naturnya yaitu fitrahnya yang suci. Hal yang secara mendasar diajarkan Agama.

    Dari sini kita dapat mendaftar nuktah-nuktah pandangan kemanusiaan Islam, yaitu bahwa manusia diikat dalam suatu perjanjian primordial dengan Tuhan, bahwa manusia sejak dari kehidupannya dalam alam ruhani, berjanji untuk mengetahui Tuhan Yang Maha Esa sebagai pusat orientasi hidupnya (7: 172). Hasilnya ialah kelahiran manusia dalam kesucian asal (fithrah), dan diasumsikan ia akan tumbuh dalam kesucian itu, seandainya tidak ada pengaruh lingkungan (QS. 30: 30, Juga sabda Nabi SAW. “Setiap anak dilahirkan dalam kesucian...”). Kesucian asal itu bersemayam didalam hati nurani, yang mendorongnya untuk senantiasa mencari, berpihak, dan berbuat yang baik dan benar.

    Setiap pribadi mempunyai potensi untuk benar (QS. 33: 4). Tetapi karena manusia diciptakan sebagai makhluk lemah (antara lain berpandangan pendek, dan cenderung kepada hal-hal yang bersifat segera), maka setiap pribadi mempunyai potensi untuk salah, karena “tergoda” oleh hal-hal menarik dalam jangka pendek (QS. 4: 28 dan 75: 20). Maka untuk hidupnya, manusia dibekali dengan akal fikiran, kemudian agama, dan terbebani kewajiban terus menerus mencari dan memilih jalan hidup yang lurus, benar dan baik. Disini menurut agama, manusia adalah makhluk etis dan moral, dalam arti bahwa perbuatan baik buruknya harus dapat dipertanggungjawabkan, baik didunia maupun diakhirat dihadapan Tuhan Yang Maha Esa (QS. 99: 7-8)

    Berbeda dengan pertanggungjawaban didunia yang nisbi sehingga masih ada kemungkinan manusia menghindarinya, pertanggungjawaban diakhirat adalah mutlak, dan sama sekali tidak dapat dihindari (QS. 40: 16). Pertanggungjawaban mutlak kepada Tuhan diakhirat itu bersifat pribadi sama sekali, sehingga tidak ada pembelaan, hubungan solidaritas dan perkawanan, sekalipun antara sesama teman, karib kerabat, anak dan ibu bapak (QS. 1:48; 6:94). Semua itu mengasumsikan bahwa setiap pribadi manusia, dalam hidupnya didunia ini, memiliki hak dasar untuk memilih dan menentukan sendiri prilaku moral dan etisnya (QS. 18:29) Yang tanpa hak memilih ini tidaklah mungkin manusia dituntut pertanggungjawaban moral dan etisnya.

    Karena hakikat dasar yang mulia inilah, maka manusia dinyatakan sebagai puncak segala makhluk Allah. yang diciptakan oleh-Nya dalam sebaik-baik ciptaan, yang menurut asal berharkat dan bermartabat yang setinggi-tingginya (QS. 95:4). Karena Allah pun memuliakan anak cucu Adam ini dan melindungi serta menanggungnya didaratan maupun dilautan (QS. 17:70), Setiap pribadi manusia adalah berharga, seharga kemanusiaan sejagat.

    Maka barangsiapa merugikan seorang pribadi, seperti membunuhnya, tanpa alasan yang sah, maka ia bagaikan merugikan seluruh umat manusia, dan barangsiapa yang berbuat baik kepada seseorang, seperti menolong hidupnya, maka ia bagaikan berbuat baik kepada seluruh umat manusia (QS. 5: 32). Itulah alasannya mengapa setiap pribadi manusia harus berbuat baik kepada sesamanya, dengan memenuhi kewajiban diri pribadi terhadap pribadi lainnya, dan dengan menghormati hak-hak orang lain, dalam suatu jalinan hubungan kemasyarakatan yang damai dan terbuka.

    Inilah paham humanisme Islam, yang secara padat diringkas dalam kata amal shalih, yang dilambangkan dalam makna dan semangat ucapan salam dengan menengok ke kanan dan ke kiri pada akhir shalat. Humanisme ini perlu dikenal kembali oleh umat Islam, agar umat Islam dapat mengekpresikan modernitas secara otentik berdasarkan ajaran agama yang sah.

    Siapakan kaum humanis itu? Mereka merupakan kelompok orang yang mengabdikan hidupnya untuk mempelajari dan mendalami buku-buku karya Pusataka Klasik antara lain buah pikiran Sokrates, Plato dan para filsuf Yunani yang lain. Kaum Humanis terdiri dari sastrawan, seniman, ahli agama/teologi., guru kaum borjuis, orator (ahli pidato) dan sebagainya.

Sikap hidup kaum Humanis antara lain :
1. kritis dan tidak mudah percaya tanpa bukti nyata (skeptis)
2. menentang terhadap tradisi lama
3. sekularisme (sikap mengutamakan keduniawian dan hidup di dunia ini). Hal ini dikenal melalui pandangan hidupnya berbunyai “Carpe Diem” (nikmatilah hidup) yang bertolak belakang dengan pandangan hidup pada abad pertengahan yaitu “ momento mori” (ingatlah hari sesudah mati)
4. record breaker, memecahkan rekor menghasil karya-karya yang terkenal
tokoh-tokoh Renaissance dan humanisem :
1. para seniman dari italia :
a.Leonardo dan Vinci yang melukis “monalisa” (1452-1519)
b.Michelangelo Buonarroti (1475-1564)
c.Dante Alighieri 1265-1321
d.Raphael (1483-1520)
e.Lorenzo Valla
f.Picodela Mirandola.

2. Dari Belanda antara lain :
a) Desiderwis Erasmus (1469-1536) seorang pemulis yang mengikuti jejak Sokrates
b) Rembrant 1607-1669 pelukis dengan ciri menampilkan kontras antara gelap dan terang.
    Revolusi besar dalam ilmu pengetahuan baru terjadi pada jaman modern kurang lebih abad 17 namun Renaissance dapat dianggap sebagai masa persiapan. Hasil karya golongan Humanis memberi sumbangan berharga contoh: karya Leonardo dan Vinci berupa mesin bubut, pompa, alat peperangan, pesawat terbang. Selain itu masih ada penemuan lain yaitu mesin cetak, mesiu, kompas magnetic, peta dan lain-lain.

No comments:

Post a Comment