Pengertian dan Ruang Lingkup Sosiologi Pembangunan
BAB I
PENDALUHUAN
1.1 Latar Belakang
A. MASYARAKAT DESA
Pembangunan
di pedesaan merupakan sebagian dari proses pembangunan nasional yang
bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian wilayah,
sekaligus Mengindikasikan perubahan terhadap aspek kehidupan social
ekonomi masyarakat desa. Dampak perubahan yang signifikan meliputi
perubahan mata pencaharian, dimana terjadi pergeseran orientasi dari
sektor pertanian menjadi sektor industri, jasa dan perdagangan yang
berkembang pesat yang terakumulasi dari proses modernisasi dalam
perkembangannya. Untuk memulai perkembangan, dalam historis setiap
negara terdapat suatu momen optimal yang seharusnya mampu
diselaraskan dalam berbagai perspektif baik ekonomi maupun sosial dan
politik yang senantiasa dikait dengan sektor pertanian sebagai sumber
penghidupan (way of life dalam perspektif klasik petani) mayoritas
penduduk Indonesia.
Dampak positip maupun
negatip pembangunan ekonomi nasional yang telah dilaksanakan selama
ini terhadap perubahan struktur ekonomi baik nasional maupun
pedesaan, dimana terjadi pergeseran baik sektoral, spasial maupun
institusional dan proses transformasi ekonomi. Dampak positip
terutama pada perkembangan tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat
pedesaan yang terkait dengan perubahan kesempatan kerja dan
kesempatan berusaha. Dampak negatip seperti pencemaran lingkungan,
meningkatnya kecemburuan sosial, munculnya kesenjangan masyarakat
desa-kota, khususnya persaingan meraih
kesempatan kerja dan
pendapatan karena perbedaan produktivitas pertanian dan non pertanian
akibat makin terbatasnya lahan usahatani, tingkat pendidikan dan
ketrampilan. Bergesernya nilai-nilai dan norma-norma yang selama ini
dialiniasi masyarakat desa merupakan dampak negatip pembangunan dalam
aspek sosio-kultural akibat tekanan budaya dari para migran. Dampak
negatip ini bukannya tanpa alasan. Kalau mau jujur, kita harus lebih
mafhum atas rendahnya kualitas SDM pertanian, kondisi pencukupan gizi
serta rendahnya proteksi dan jaminan panen dan pasca panen yang
tentunya akan mempengaruhi motivasi para petani untuk hasrat
berprestasi (need for achienement) dalam meningkatkan kuantitas dan
kualitas produk pertaniannya.
Konsekuensinya adalah
sektor pertanian menanggung beban penyerapan tenaga kerja yang berat
yang mengakibatkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian
pedesaan lebih rendah dibanding sektor non pertanian di perkotaan.
Perbedaan produktivitas tersebut merupakan insentif nyata bagi
penduduk pedesaan untuk melakukan migrasi ke kota (urbanisasi);
dimana sebagian besar masyarakat pedesaan, yang umumnya masih
tergolong miskin terutama para buruh tani, merupakan kelompok yang
mengandalkan tenagakerja sebagai sumber produksi. Aspek
ketenagakerjaan pertanian yang melibatkan mereka, diharapkan dapat
memberi peluang bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraannya
(bukan sekedar subsisten belaka).
Industrialisasi pada
masyarakat pertanian (agraris)di pedesaan merupakan salah satu
penyebab perubahan sosial yang mempengaruhi sistem dan struktur
sosial masyarakatnya. Proses industrialisasi diyakini mampu mengubah
pola hubungan kerja tradisional menjadi modern rasional. Nilai
gemeinschaft antar tenaga kerja dalam kehidupan pertanian tradisional
berubah menjadi gesselschaft. Hubungan antara pemilik dan pekerja
(atasan dan bawahan) yang semula bersifat kekeluargaan (ataupun
patron-clien) berubah menjadi utilitarian komersial. Pola silaturahmi
hubungan kekeluargaan dalam system kekerabatan termasuk frekuensi
pertemuan (bertatap muka) akan turut mengalami perubahan.
Terkait dengan
pembangunan industri, dalam konteks ini yaitu industri pertanian,
program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), merupakan kebijaksanaan
pemerintah di bidang perindustrian gula4. Program TRI awalnya
berkembang di pulau Jawa sekitar tahun 1975, dan mulai diterapkan di
Sumatera Utara sekitar tahun 1986, yaitu: di kabupaten Langkat dan
meluas ke kabupaten Deli Serdang (sekitar tahun 1988).
1.2 Masalah
Masalah yang dibahas di
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Sejarah perkembangan
pembangunan masyarakat atau perubahan sosial yang terjadi.
2. Teori-teori
pembangunan masyarakat.
3. Perubahan paradigma
ilmu sosiatri.
4. Proses perubahan
sosial dalam kontek global.
1.3 Tujuan
Tujuan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. untuk mengetahui
sejarah pembangunan masyarakat atau perubahan sosial yang terjadi.
2. untuk mengetahui
teori-teori pembangunan masyarakat.
3. untuk mengetahui
adanya perubahan paradigma ilmu sosiatri.
4. untuk mengetahui
proses perubahan sosial dalam kontek global.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sosiologi pembangunan
berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu
sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok
pikiran ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim.
Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan
gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat
pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan pembangunan dunia ketiga
tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti sosial untuk
mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun
menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang
kegagalan pembangunan pada negara dunia ketiga.
Sosiologi pembangunan
membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep
pembangunan. Menurut Webster (1984), terdapat lima dimensi yang perlu
untuk diungkap, antara lain :
1. Posisi negara miskin
dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara lain.
2. Ciri khas atau
karakter dari suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.
3. Hubungan antara proses
budaya dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.
4. Aspek sejarah dalam
proses pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi.
5. Penerapan berbagai
teori perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan
nasional pada negara-negara berkembang.
Sosiologi pembangunan
mencoba melengkapi kajian ekonomi yang selama ini hanya didasarkan
pada produktivitas dan efisiensi dalam mengukur keberhasilan
pembangunan. Pembangunan sebagai sebuah perubahan sosial yang
terencana tidak bisa hanya dijelaskan secara kuantitatif dengan
pendekatan ekonomi semata, terdapat aspek tersembunyi jauh pada diri
masyarakat seperti persepsi, gaya hidup, motivasi dan budaya yang
mempengaruhi pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan peluang-peluang
yang ada. Sosiologi pembangunan juga berusaha untuk menjelaskan
berbagai dampak baik positif maupun negatif dari pembangunan terhadap
sosial budaya masyarakat. Berbagai introduksi baik yang berupa
teknologi dan nilai-nilai baru dalam proses pembangunan tentu akan
membawa dampak pada bangunan sosial yang sudah ada sejak lama.
Hambatan-hambatan Dalam
Pembangunan
Masyarakat yang
terbelakang masih sangat tradisional sekali. Mereka masih terikat
dengan nilai-nilai asli dan juga masih memiliki kerinduan untuk
memelihara nilai-nilai tersebut. Biasanya selalu dikaitkan dengan
kebudayaan atau adat istiadat lokal. Dalam masyarakat yang tradsional
tidak memberikan peluang cukup untuk terjadinya perubahan-perubahan
serta tumbuhnya kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat. Yang
menyebabkan hal tersebut sangat kompleks sekali, seperti:
kolonialisme dan feodalisme. Kondisi keterbelakangan juga dapat
dilihat dari bidang ekonomi dan pendidikan. Penyebab utama untuk hal
ini adalah adanya keterbatasan yang amat parah dalam pendapatan,
modal dan ketrampilan. Hal tersebut juga menyebabkan kemiskinan
masyarakat yang berkepanjangan.
Di Indonesia, hal itu
disebabkan karena penyebaran penduduk yang tidak merata dan tingkat
urbanisasi yang sangat tinggi. Tingkat pendapatan buruh tani di
pedesaan yang sangat rendah dan upah buruh di masyarakat industri
yang belum mencapai UMR. Gulungtikarnya perusahaan-perusahaan besar
telah menyebabkan angka pengangguran yang sangat tinggi. Ditambah
lagi dengan oportunisme di kalangan elit politik, telah menyebabkan
ketidak stabilan di bidang politik. Hal-hal ini telah menyebabkan
terpuruknya ekonomi rakyat dan mempercepat pemerataan kemiskinan
masyarakat Indonesia. Untuk perubahan sosial-ekonomi dibutuhkan
aparatur negara yang bersih dan pendidikan masyarakat yang memadai.
Perbedaan Perubahan
Sosial dan Budaya serta Mitos Perubahan
Perubahan sosial
dan perubahan kebudayaan timbul karena perbedaan pandangan para ahli.
Perubahan sosial berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada
aspek-aspek kehidupan sosial (status dan peran serta perilaku
individu-individu) Sedangkan perubahan kebudayaan berhubungan dengan
perubahan yang terjadi pada tingkat ide-ide atau gagasan, seperti
pengetahuan dan keyakinan keagamaan. Tetapi ada juga ahli lain yang
mempunyai anggapan bahwa perubahan sosial pada dasarnya merupakan
perubahan kebudayaan karena aspek sosial tidak dapat dilepaskan dari
aspek-aspek kebudayaan. Persamaan perubahan sosial dan perubahan
kebudayaan adalah bahwa kedua-duanya berhubungan dengan masalah
penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan terhadap cara-cara
hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
BAB III
PEMBAHASAN
Sejarah
perkembangan sosiologi pembangunan di Belanda diawali dengan
menggunakan pendekatan sosiologi historis. Sosiologi historis
menggunakan perspektif pertumbuhan dalam mengungkap permasalahan
dengan teori dan konsep sosiologi. Berbagai penelitian yang
menggunakan pendekatan historis pada awal perkembangannya menjadikan
daerah kolonial sebagai objek kajian. Berberapa penelitian yang
mengambil objek kajian di Indonesia menjelaskan tentang berbagai
dampak pembangunan seperti lahirnya konsep shared proverty oleh
Geertz.
Pendekatan kedua yang
muncul setelah pendekatan sosiologi historis adalah ekonomi politik.
Aliran ini berangkat dari keterbelakangan yang dialami oleh negara
dunia ketiga. Pendekatan ekonomi politik memberikan gambaran tentang
secara ekonomi antara negara maju dan negara miskin. Objek penelitian
pendekatan ekonomi politik adalah negara dunia ketiga di Amerika
Latin. Kelompok yang menggunakan aliran ini kemudian mengembangkan
teori dependensi. Sedangkan pendekatan yang ketiga adalah sosiologi
modernisasi. Aliran ini kemudian berkembang menjadi teori
modernisasi.
Pendekatan yang keempat
adalah tradisi antropologi marxis. Pokok kajian pendekatan ini adalah
cara produksi yang dominan di Amerika Latin. Perspektif cara
berproduksi tidak dapat menghasilkan pemecahan pada masalah-masalah
pembangunan dan kebijaksanaan pembangunan.
Pendekatan terakhir
adalah sosiologi terapan. Pendekatan sosiologi terapan adalah pada
kajian pembangunan secara mikro. Para ahli sosiologi terapan berusaha
memberikan data praktis tingkat lokal kepada pengambil kebijakan atau
pengambil kebijakan. Kelemahan pendekatan ini adalah miskin akan
teori serta hasil penelitian yang didapat kurang bisa ditarik menjadi
sebuah model yang general.
Teori pembangunan
mengerucut pada dua buah teori besar, yaitu teori modernisasi dan
teori dependensi. Dua teori ini saling bertolak belakang dan
merupakan sebuah pertarungan paradigma hingga saat ini. Teori
modernisasi merupakan hasil dari keberhasilan Amerika Serikat dalam
membawa pembangunan ekonomi di negara-negara eropa. Sedangkan
kegagalan pembangunan di Afrika, Amerika Latin dan Asia menjadi awal
lahirnya teori dependensi.
Teori Modernisasi berasal
dari dua teori dasar yaitu teori pendekatan psikologis dan teori
pendekatan budaya. Teori pendekatan psikologis menekankan bahwa
pembangunan ekonomi yang gagal pada negara berkembang disebabkan oleh
mentalitas masyarakatnya. Menurut teori ini, keberhasilan pambangunan
mensyaratkan adanya perubahan sikap mental penduduk negara
berkembang. Sedangkan teori pendekatan kebudayaan lebih melihat
kegagalan pembangunan pada negara berkembang disebabkan oleh
ketidaksiapan tata nilai yang ada dalam masyarakatnya. Secara garis
besar teori modernisasi merupakan perpaduan antara sosiologi,
psikologi dan ekonomi.
Kritik terhadap teori
modernisasi lahir seiring dengan kegagalan pembangunan di negara
dunia ketiga dan berkembang menjadi sebuah teori baru yaitu teori
dependensi mencoba mengembangkan teori dependensi dan mengemukakan
pendapat bahwa keterbelakangan pada negara dunia ketiga justru
disebabkan oleh kontak dengan negara maju. Teori dependensi menjadi
sebuah perlawanan terhadap teori modernisasi yang menyatakan untuk
mencapai tahap kemajuan, sebuah negara berkembang harus meniru
teknologi dan budaya negara maju. Frank memberikan kritiknya terhadap
pendekatan-pendekatan yang menjadi rujukan teori modernisasi, antara
lain pendekatan indeks tipe ideal, pendekatan difusionis dan
pendekatan psikologis.
Teori dependensi bertitik
tolak dari pemikiran Marx tentang kapitalisme dan konflik kelas. Marx
mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi
masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan
kapitalisme adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor
produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh yang tidak
memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses
kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor
produksi untuk menuju tatanan masyarakat tanpa kelas.
Eksploitas juga dialami
oleh negara dunia ketiga. Proses eksploitasi yang dilakukan oleh
negara maju dapat dijelaskan dalam tiga bagian, yaitu pedagang
kapitalis, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Tahap awal yaitu masa
pedagang kapitalis. Negara-negara Eropa berusaha berusaha untuk
mendapatkan sumberdaya alam yang ada di negara dunia ketiga melalui
kegiatan perdagangan. Perdagangan ini berkembang dan pada prakteknya
merupakan suatu bentuk eksploitasi terhada sumberdaya negara dunia
ketiga. Pemanfaatan tenaga kerja yang murah yaitu sistem perbudakan
menjadikan para pedagang kolonial mampu meraup keuntungan yang sangat
besar. Eksploitasi terus berlanjut hingga memunculkan ide adanya
kolonialisme. Asumsi yang berkembang di negara kapitalis adalah
peningkatan keuntungan serta kekuatan kontrol atas sumberdaya yang
ada di negara miskin. Seiring berakhirnya era kolonialisme timbul
sebuah era baru yang dikenal dengan neo-kolonialisme. Penjajahan yang
dilakukan oleh negara maju terhadap negara dunia ketiga pada dasarnya
masih tetap berlangsung dengan bermunculannya perusahaan
multinasional. Negara dunia ketiga menjadi salah satu sarana penyedia
tenaga kerja murah dan sumber daya alam yang melimpah, selain itu
jumlah penduduk yang relatif besar menjadi potensi pasar tersendiri.
Ketiga tahap inilah yang semakin memperpuruk kondisi negara dunia
ketiga.
- PERKEMBANGAN PEMIKIRAN (Tentang Teori Pembangunan Nasional)
Pembangunan masyarakat
sebagai suatu proses dinamis menuju keadaan sosial ekonomi yang lebih
baik, atau yang lebih modern. Untuk mencapai diperlukan perpaduan
ilmu, seperti: ekonomi, sosilogi, teologi dan antropologi. Dari
pendekatan dan analisa kritis tentang perkembangan ekonomi, maka
harus didekati dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Cabang-cabang
ilmu pengetahuan yang dimaksud, seperti ekonomi pembangunan,
sosiologi pembangunan, pembangunan politik, teknologi pembangunan,
administrasi pembanguan dan sebagainya.
Sebagai suatu proses,
pembangunan nasional adalah merupakan rangkaian perubahan majemuk
dalam bidang politik, sosial dan ekonomi.
Di Indonesia sendiri,
kelihatannya pembangunan ekonomi sangat tergantung dengan kestabilan
politik. Hubungan antara ekonomi dan politik sangat dekat dan sangat
sulit dipisahkan, bahkan saling inter-dependen yang sangat kuat
sekali. Kalau diperhatikan dengan seksama, maka etika pembangunan
tidak dapat dipisahkan dari etika ekonomi dan etika politik. Untuk
pembangunan ekonomi biasanya syarat-syarat sosial politik sudah
terpenuhi terlebih dahulu. Ke duanya dapat dijalankan secara
simultan, apabila suatu bangsa sudah mencapai tingkat kematangan
tertentu dalam bidang sosial dan politik. Dua frase ini sangat
penting proses suatu pembangunan, yaitu: “konsolidisasi politik”
dan “rekonsiliasi ekonomi”. Yang dimaksudkan dengan “konsolidasi
politik” adalah kebersamaan semua komponen politik, dengan
menghargai perbedaan dan kesamaan mereka masing-masing, dan
bersama-sama membangun negara Indonesia berdasarkan sistem demokrasi.
Dalam hal ini tidak mengenal mayoritas dan minoritas dalam
berpolitik.
I. Pendekatan Pembanguan
Bangsa (Sociocultural Development)
Pengertian pembangunan
bangsa agaknya telah mengalami suatu perkembangan penting, baik dalam
pengertian maupun ruang lingkup. Dalam ruang lingkup tampak dua aspek
permasalahan: (1) mengenai pembangunan politik dan (2) mengenai
pembangunan sosial budaya.
Masalah kebudayaan sangat
penting untuk diperhatikan. Karena budaya telah mengalir dalam hidup
masyarakat. Secara antropologis manusia telah dibelenggu oleh adat
istiadatnya. Bahkan, kadang-kadang hal tersebut menjadi penghambat
proses pembangunan. Sering terjadi konflik antara kebudayaan dan
modernisasi. Hal lian yang perlu diperhatikan adalah agama. Agama dan
kebudayaan sering kali telah lebur dalam kehidupan manusia. Sehingga
sangat membedakan mana yang agama dan mana yang kebudayaan. Karena
eratnya hubungan pemabnguan politik dan kebudayaan, maka
berkembanglah aliran pemikiran dalam ilmu politik yang disebut
sebagai Kebudayaan Politik.
II. Pendekatan
Pembangunan Ekonomi (Economic Development)
Permikiran perkembangan
teori pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut: Dasar aliran ini
adalah individualisme. Setiap produsen dan konsumen meredeka
bertindak, pembentukan harga didasarkan kepada hukum permintaan dan
penawaran di pasar, menjadi dasar pengambilan keputusan. Harga yang
terbentuk atas dasar mekanisme pasar tersebut, dengan sendirinya akan
mempengaruhi “produksi, alokasi, pendapatan dan konsumsi”.
Mekanisme pembentukan harga akan membawa segala hubungan ekonomi
secara otomatis ke jurusan persesuaian kepada keadaan seimbang.
STUDI TENTANG PERUBAHAN
Mempelajari sejarah studi
tentang perubahan
Mendiskusikan sifat
tentang pendidikan perubahan
Mempresentasikan sebuah
variasi struktur berpikir tentang perubahan
Menjelaskan tiga
prespektif rencana perubahan
Menghubungkan beberapa
aspek tentang proses perubahan kepada bukti-bukti dari perubahan yang
direncanakan.
Proses dari Perubahan dan
Penemuan Bukti
Perubahan berlangsung
secara terus menerus
Perubahan menyebabkan
kegelisahan dan ketidakpastian
Dukungan teknik dan
psikologi sangat diperlukan
Belajar ketrampilan yang
baru merupakan suatu perkembangan dan kenaikan nilai-nilai sosial.
Hubungan antara
organisasi pendidikan dan seseorang yang menjadi agen pembaharu akan
dapat dirasakan setelah terbukti melalui proses perubahan. Setiap
orang harus siap menjadi agen pembaharuan untuk dirinya sendiri.
Perubahan yang membawa
keberhasilan selalu melalui dorongan dan dukungan.
2. PERUBAHAN PARADIGMA
ILMU SOSIATRI
Setiap perubahan
sosial selalu mencakup pula perubahan budaya, dan perubahan budaya
akan mencakup juga perubahan sosial. Sosiatri merupakan ilmu
sosial terapan (applied science), yang dalam pengembangannya
mengandalkan realita yang terjadi di dalam masyarakat, berkaitan
dengan masalah sosial yang perlu diselesaikan (pandangan awal
perkembangan) dan penyesuaian kebutuhan dengan sumber daya yang
ada (pandangan hasil perkembangan). Realita dalam masyarakat yang
terus mengalami perubahan memiliki dimensi perubahan sosial.
Sementara itu, secara keilmuan, pengembangan kajian, penelitian,
dan teori-teori baru juga dituntut dari sosiatri, baik melalui
hasil kerja lapangan (penelitian dan proyek sosiatri), maupun
melalui berbagai kegiatan seminar dan diskusi.
Aktivitas ilmiah
mempermudah perubahan budaya. Inovasi baru di bidang keilmuan
memperoleh ruang dan kesempatan formal. Kajian perubahan dalam
sosiatri dapat dipadukan dengan konsep paradigma dari. Konsep
paradigma dari Khun sealiran dengan teori-teori perubahan.
Perubahan ilmu
pengetahuan menurut Khun terjadi secara revolusioner. Akumulasi
hanyalah salah satu segmen di dalam proses revolusi untuk mencapai
kemajuan ilmu. Revolusi ilmu menjalani proses sebagai berikut:
Paradigma I, Ilmu Normal,
Anomali, Krisis, Revolusi, Paradigma II Pada tahap ilmu normal,
proses akumulasi ilmu terjadi, namun perkembangan ilmu tidak hanya
terletak pada tahap ilmu normal, melainkan meliputi keseluruhan
proses tersebut. Paradigma merupakan suatu pandangan mendasar tentang
apa yang menjadi pokok persoalan dalam suatu cabang ilmu. Jadi
paradigma merupakan suatru bingkai atau frame yang membuat ilmuwan
terfokus pada apa yang menjadi perhatiannya berkaitan dengan suatu
kondisi atau objek.
Perubahan paradigma dalam
ilmu sosial yang dijadikan sebagai acuan kerja dan pelaksanaan proyek
sosiatri jelas akan turut mengakibatkan perubahan dalam paradigma
sosiatri sebagai ilmu.
Perubahan paradigma dalam
suatu ilmu pengetahuan memang bukan suatu hal baru. Kondisi ini
menunjukkan proses revolusi ilmu dari Khun merupakan sesuatu yang
realiabel. Di bidang ilmu alam akan dengan dengan mudah ditemukan
perubahan paradigma mendasar yang selanjutnya mempengaruhi kehidupan
manusia. Perubahan teori geosentris menjadi heliosentris merupakan
suatu revolusi dalam kosmologi yang dampaknya sangat besar. Salah
satu efek sosialnya adalah perkembangan penjelajahan samudera yang
menimbulkan kolonialisme dan imperialisme bangsabangsa Eropa terhadap
bangsa noneropa. Perubahan pemikiran mengenai abiogenesis menjadi
biogenesis merupakan perubahan besar dalam biologi. Efek positifnya
adalah memungkinkan perkembangan ilmu budidaya dan kajian
mikrobiologi. Efek sosialnya adalah kemampuan menjawab kekhawatiran
Malthus mengenai bencana kemiskinan dan kelaparan akibat ledakan
jumlah penduduk. Di bidang ilmu sosial, dapat terlihat perubahan
paradigma sosiologi dan antropologi. Pada awal perkembangannya,
sosiologi difokuskan pada struktur sosial dan dinamika sosial
masyarakat Eropa pascarevolusi sosial dan Revolusi Industri. Kedua
revolusi tersebut memberikan dampak yang besar terhadap masyarakat
dunia.
Pembangunan mempunyai
pengertian dinamis, maka tidak boleh dilihat dari konsep yang statis.
Pembangunan juga mengandung orientasi dan kegiatan yang tanpa akhir.
Proses pembangunan merupakan suatu perubahan sosial budaya.
Pembangunan menunjukkan terjadinya suatu proses maju berdasarkan
kekuatan sendiri, tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya.
Pembangunan tidak bersifat top-down, tetapi tergantung dengan
“innerwill”, proses emansipasi diri. Dengan demikian, partisipasi
aktif dan kreatif dalam proses pembangunan hanya mungkin bila terjadi
karena proses pendewasaan.
PROSES PERUBAHAN SOSIAL
DALAM KONTEKS GLOBAL
Globalisasi mau tidak
mau harus dilalui oleh seluruh negara di dunia ini. Hubungan antar
negara menjadi sedemikian penting pengaruhnya dalam mewujudkan
kehidupan masin-masing negara terlebih ketika era globalisasi tiba.
Menjadi suatu keniscayaan apabila sebuah negara harus bekerjasama
dengan negara lain bahkan lebih ekstremnya lagi memerlukan bantuan
negara lain. Pola-pola hubungan antar negara menjadi bahasan penting
dalam membedah perubahan sosial yang terjadi saat ini.
Selain peran negara lain
(negara maju), perubahan sosial di negara-negara berkembang
dipengaruhi oleh organisasi internasional dan bahkan perusahaan multi
nasional. Dominasi negara maju dapat dilihat dari berbagai bantuan
yang masuk ke nagara berkembang atas nama modernisasi. Modernisasi
diangap sebagai jalan untuk meraih kemajuan negara berkembang.
Organisasi internasional mempunyai peran yang hampir sama dengan
negara maju. Berbagai kesepakatan dan kebijakan yang dihasilkan
memberikan dampak yang sangat nyata bagi Negara berkembang. Hal ini
terjadi karena memang organisasi internasional didominasi oleh negara
maju.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat
dibuat dalam pembuatan makalah ini :
1. Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan
gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat
pada negara-negara dunia ketiga.
2. Sejarah perkembangan sosiologi pembangunan di Belanda diawali
dengan menggunakan pendekatan sosiologi histories
3. Pembangunan masyarakat sebagai suatu proses dinamis menuju keadaan
sosial ekonomi yang lebih baik, atau yang lebih modern. Untuk
mencapai diperlukan perpaduan ilmu, seperti: ekonomi, sosilogi,
teologi dan antropologi.
4. Setiap perubahan sosial selalu mencakup pula perubahan budaya, dan
perubahan budaya akan mencakup juga perubahan social.
5. Perubahan sosial di negara-negara berkembang dipengaruhi oleh
organisasi internasional dan bahkan perusahaan multi nasional.
2. Saran
Perlunya pemahaman aspek
sejarah pembangunan masyarakat untuk peningkatan pendapatan
masyarakat.
No comments:
Post a Comment