Ibu...
tetap tegar yaa!!
“Ibu
Tetap Tegar yaa..Ibu mengadu padaku tentang sikap ayah yang terlalu
keras pada pendiriannya yang salah,dan sudah tidak peduli lagi dengan
keadaan keluarganya. Ibu seperti anak kecil yang mengadu dengan isak
tangis yang membuatku terharu, sama seperti aku saat masih kecil
dulu, ketika teman-teman mengejekku dan meninggalkanku, lalu aku
menceritakannya kepada ibu, bahaw mereka jahat kepadaku.”
Kini
ibu sama sama sperti seorang anak kecil yang tidak punya teman selain
aku. Aku sebagai tempat dimana curahan kesedihannya, dia
membutuhkanku, ibuku yang begitu tegar meski lelah dalam kerapuhannya
di usia tua, karena ibu ingin melihat kami anaknya menjadi seorang
yang sukses di hari tua nanti.
“nak, ibu
tidak tahan lagi dengan sikap ayahmu”, tutur ibu ketika menelfonku
malam itu.
“Memangnya
ayah kenapa lagi bu?”, tanyaku yang tak tahu menahu masalah yang
terjadi.
“Ayahmu
masih saja mengulang kebiasaannya yang dulu, masih bermain judi dan
ayahmu juga sudah tidak ingin kerja lagi untuk kebutuhan keluarga,
termasuk membiayai kebutuhan kamu nak, karena ibu sekarang sudah
penghasilan berjualan di kantin”, ibu menjelaskan semuanya,
terdengar isak tangis dari telfon. Ibu menangis lagi.
“Harus
sabar bu”, ku coba menenangkan ibu yang tak bias menahan
kesedihannya.
Tapi karena ibu
semakin tak tahan dengan perlakuan ayah, lalu ibu ingin tinggal
disini bersamaku,
“kalau ibu
punya modal jualan yang lebih, ibu ingin tinggal bersamamu disitu dan
bukan usaha di tempatmu”, kata ibu.
Masih kudengar
suara isak tangis ibu dari telfon, dia memang tidak bias lagi
menyembunyikannya dariku, kesedihan, dan air mata.
“Tapi
kalau ibu kesini, nanti terjadi kesalahpahaman antara ayah dan ibu,
jadi sebaiknya ibu tetaplah tinggal disitu bersama ayah”, coba
melarang ibu agar tidak melanjutkan niatnya .
Setelah
mendengar penjelasan itu, ibu menurunkan nada suaranya yang
sebelumnya seakan ingin memborontak dan marah , ibu kemudian
mengurungkan niatnya, ibu akan berusaha lagi untuk tetap mengerti
keadaan ayah, ibu mengatakan itu padaku;
“iya, ibu
akan tinggal disini, tidak akan meninggalkan ayahmu, tapi kalau nanti
ayahmu tetap tidak mau merubah kelakuannya yang ibu tidak sukai,
nanti ibu akan meninggalkannya”, ibu masih saja tetap keras, tapi
berusaha untuk bertahan dengan keadaan seperti itu.
Aku tidak tahu
apa yang harus aku lakukan, untuk menepis amarah ibu karena sikap
ayahku, aku hanya mengikuti alur cerita ibu saja, dan berusaha
sebisaku untuk tidak bertindak tanpa berpikir panjang. Untunglah saat
itu ibu masih mau mendengarkan saranku, semoga ayah dan ibu disana
tetap akur dan tidak bertengkar lagi.
Maafkan anakmu
ini ibu, semua salahku, karena aku yang sperti ini, kalian harus
saling salah paham. Aku sadar, kini aku, anak yang berdosa kepada
orang tuanya, maafkan anakmu ibu... .
Ibu tetap tegar
ya...!!. (Desember,2012).