Main
Kelereng (a'baguli)
HoooLaaa
BerooO... masih ingat ngak dengan permainan waktu kecil kita??
Diantaranya
permainan Kelereng atau Baguli' (bahasa selayar), yang berbentuk
bulat kecil terbuat dari kaca, ukurannya macam-macam, ada yang kecil,
ada juga yang sebesar jambu, warna dan coraknya macam-macam, dan
populer saat aku masih anak-anak, ingat kan?,
permainan
ini sangat diminati anak-anak di era90-an, karena pada saat itu kita
belum mengenal Internet, belum punya Facebook,twitter,Google Plus,
dan blog, dan contoh terkecil yang menggeser permainan ini adalah
adanya Playstation, jadinya anak-anak seusia kita dlu saat ini, sudah
jarang ada yang main kelereng dan bahkan sudah tidak ada. (mungkin
sudah punah).
Jadi
setiap pulang sekolah,sehabis istirahat di rumah, kita memanggil
beberapa teman untuk main kelereng (a' Baguli'). karena ngak asik
juga kalau kita mainnya sendirian.
Dalam
permainan kelereng ini, membutuhkan kesepakatan diantara para pemain,
karena dengan kesepakatan maka kita baru bisa bermain, ya kalau tidak
terpaksa main sendiri, kalau tidak setuju dengan kesepakatan itu,
kamu hanya akan jadi penonton saja, tidak ada yang seru kalau hanya
nonton dan tidak ada tantangannya juga. Sebagai pelajaran dalam
permainan ini yang bisa kita ambil , terciptanya rasa saling
menghargai orang lain dan perlunya toleransi.
Aku
sangat menyukai permainan kelereng ini, karena menurutku ini
permainan yang mengesikkan, tak pernah lelah untuk terus bermain,
meskipun mainnya dari siang sampai adzan maghrib, dan terkadang Ibu
yang datang memanggilku untuk pulang baru aku mau berhenti main
kelereng atau baguli' (bahasa Selayar) dengan teman-temanku.
Karena
aku tahu dalam bermain kelereng berarti ada sesuatu yang harus aku
pertaruhkan dan aku perjuangkan untuk nanatinya aku menjadi pemenang
dalam permainan kelereng. Agar aku bisa menang,maka aku sering
latihan di kolom rumah sendirian (bukan bersemedi bro). Dan kenapa
harus latihan??, karena untuk menjadi pemenang dalam permainan
kelereng atau baguli' (bahasa Selayar), aku harus mempelajari trik
dan situasi permainan.
Permainan
kelereng yang sering di mainkan, kami beri nama poccis, yaitu
menggambat segitiga sama kaki atau segi empat di atas tanah, setelah
itu masing-masing pemain menaruh kelereng mereka di atas gambar pas
di garisnya, (bukan di tengah gambarnya, itu salah), kelereng yang
disimpan di atas garis yang tadi itu namanya pattannang atau yang di
pertaruhkan, dan banyaknya kelereng yang disimpan tergantung dari
kesepakatan para pemain, tapi biasanya hanya satu buah kelereng saja
untuk satu orang pemain, dan kalau garis yang di buat itu adalah
segitiga, maka orang yang bermain minimal tiga orang, maksimalnya
enam orang, setelah kelereng yang di pertaruhkan sudah di simpan di
atas garis atau gambar, maka, permainan akan di lanjutkan dengan
melempar satu buah kelereng yang ada di tangan, kami sebut itu
“pangamba’” (bahasa selayar), atau yang akan di gunakan untuk
menembak kelereng yang ada pada gambar dan kelereng lawan yang juga
di gunakan untuk menembak nanatinya.
Kemudian
para pemain bersiap-siap melempar dari jarak satu atau dua meter dari
gambar, dan berusaha mengenai salah satu kelereng taruhan yang ada
pada gambar tadi, dan siapa yang lebih dulu kelerengnya mengena
kelereng taruhan yang ada pada gambar, maka dia yang lebih dulu untuk
menembak kelereng taruhan dan juga kelereng lawan, tapi jika kelereng
yang di lempar tersebut masuk ke dalam garis maka pemain akan di beri
sanksi untuk tidak bermain, kami biasa sebut itu “mati”, dan
harus menunggu sampai permainan usai, tapi masih bisa ikut untuk
permainan berikutnya.
Selanjutnya,
para pemain akan bergiliran menembak taruhan dan juga kelereng lawan,
untuk mengetahui siapa urutan selanjutnya setelah pemain pertama ,
maka salah seorang di antara mereka akan mengukur jarak kelereng dari
gaaris, kelereng yang lebih dekat dari garis atau gambar maka dialah
yang selanjutnya menembak.
Dan
setelah kelereng taruhan sudah habis, maka pemain akan berusaha
menembak kelereng lawan.
Peraturan
atau kesepakaatan dari permainan ini. Jika pemain mendapat satu buah
kelereng taruhan maka dia akan membayar atau memberi dua buah
kelereng miliknya kepada pemain yang menembak kelereng miliknya, tapi
harus mengena kelereng tersebut, dan kalau meleset maka tidak akan
membayar atau memberikan kelereng kepada pemain yang menembak, kalau
pemain dapat 6 kelereng dari gambar atau kelereng yang di pertaruhkan
maka dia akan memberi 7 buah kelereng kepada pemain yang menebak
kelerengnya dan kena, dan begitu seterusnya sampai permainan usai,
(yang pernah main pasti mengerti).
Taktik
permainan. Pemain akan berusaha untuk mematikan lawan dengan
menyimpan kelerengnya di tempat yang tersembunyi atau searah dengan
kelereng yang akan membidik atau attajang (bahasa Selayar). Agar
nanatinya bisa menambak kelereng lawan dari dekat.
Setelah
semua kelereng taruhan dan kelereng lawan habis di tembak atau di
bidik , maka sudah di temukan pemenangnya dan selesailah permainan.
Selanjutnya,
permainan akan di lanjutkan dengan permainan baru, sampai akhirnya
ada diantara pemain yang mengaku kalah karena kelerengnya habis untuk
di pertaruhkan, Tapi karena kita yang sudah terlanjur menikmati
permainan tersebut, mungkin juga karena percaya diri yang tinggi
kalau nantinya akan menang, pemain akan berutang kelereng pada pemain
lain, tapi ada juga pemain yang menjual kelerengnya, sebagai tambahan
uang jajan,
Nah,
sperti itulah sedikit cerita permainan kelereng di kampung halamanku,
bukan hanya permainan “poccis” atau mengambbar segitiga dan segi
empat, tetapi ada yang kami sebut permainan kelereng “LAS”,
sebenarnya itu bukan singkatan, karena tidak ada juga kepanjangan
dari kata itu, itu lah nama permainannya, ada juga “baguli’
balo” (bahasa selayar) atau permainan kelereng dengan memasukkan
kelereng pada lubang yang telah di buat sebelumnya, dengan menghitung
poin setiap kali kelereng berhasil masuk ke lubang dan juga berhasil
membidik kelereng lawan. Tapi aku tidak bercerita untuk semua jenis
permainan kelereng itu di sini, mungkin untuk cerita selnjutnya aku
akan menceritakannya buat kalian, karena pada cerita kita kali ini
untuk memperkenalkan permainan kelereng dari kampungku, dengan
sedikit istilah permainan dengan bahasa daerah. Sekian berroOO.
(Desember,2012).
No comments:
Post a Comment