Friday, 10 August 2012

"Percaya 0,1 Persen"

Cerita ini saat saya sedang telfonan dengan sahabat lama saya. Kami pernah satu sekolah dulu. Saat masih di sekolah dasar. Tapi hanya 2 tahun kami bersama. Dia pindah ke kota pada saat itu. Kami baru bertemu lagi saat kuliah. Di kota yang sama. (wah lama juga yaa terpisahkan). hahah
Namanya..
Titin. Itu panggilannya. Wah, dia sudah dewasa sekarang

Apa kau mau menemaniku bercerita malam ini...!? Kataku. "cerita tentang apa?".
Tentang Kita. “Kita..!?”
Iya. Kau dan Aku. Tentang kau”.
Apa yang kau tahu tentang aku?”,
kau itu wanita yang dewasa menurutku, Dewasa dari sikap dan etika yang aku lihat selama mengenalmu.
"Oh, begitu?". Iya, jawabku.
Terus kita akan mulai bercerita dari mana?". (dari mana ya..?)
"begini saja, Apa yang kau pikirkan?
"Aku tidak memikirkan apa-apa, pikiranku kososng malam ini". hehehe
"Apa kau tidak ingin menyisipkan aku di sela pikiranmu yang kosong itu?
hahahha.. apa..!?
Aku selalu berpikir kau itu adalah wainita yang akan bersamaku berjalan berdampingan dan saling menggenggam tangan, semoga itu bukan hanya kenangan dan khayalanku saja.
Mungkin hanya akan percuma karena kau tidak memberikan kesempatan. “Iya. Mungkin karena kau belum bisa percaya sama aku”.
Percaya…!? Mungkin aku percaya 0,1% saja”, katanya.
Bagaimana mungkin aku bisa mengubah kepercayaan itu jika tidak pernah diberikan kesempatan.
Apa aku hanya akan seperti ini terus tanpa sebuah kepastian. “Kau harus menanti… !!”
Menanti tanpa kepastian, kau tidak memberikan waktu sampai kapan aku menanti, mungkin itu sama saja dengan menunggu.
Menunggu itu tidak sama dengan menanti. Itu beda”, katanya.
Menunggu berarti belum ada sebuah kepastian atau didalamnya tidak ada harapan,sedangkan menanti, itu sudah ada harapan.
Aku masih belum mengerti dengan yang kau katakana. Kita masih saja memperdebatkan menunggu dan menanti. Apa yang salah dengan itu… hahah (hanya pikiranku saja yang salah). Setelah berulang-ulang dia jelaskan. Aku mengerti. Itu memang berbeda.
Iya. Sekarang aku mengerti”.

Semoga harapan itu ada. Biar saja nanti kepercayaan yang hanya 0.1% tadi bisa bertambah 1%.
Aku masih berpikir tetangmu. Yang sampai saat ini belum bisa memberikan suatu kepastian tentang perasaanku.
Mungkin karena aku terlalu cepat untuk suka sama kamu. Dan mengutarakan apa yang aku rasa. Perasaan ini tidak akan berhenti sampai disini saja sampai kau membrikan kepstian yg jelas.
tapi sampai kapan..?”,

Tapi aku senang sudah mengatakan yang kurasakan saat ini. mnurutku ini sebuah kesempatan yg sudh dia brikan. Smoga aja nnti dia bisa menjadi ibu dari anak-anakku. (ngarep).
Aku ingin kau menjadi inspirasi dlm tulisanku saat ini dan seterusnya. Di setiap akhir tulisanku selalu ada do’a untumu dan harapan yang selalu ku nanti..

Sampai disini dulu ya cerita untuk malam ini. dan terima kasih untuk seseorang yang special malam ini yang menemaniku menulis cerita. Dia adalah Titin. Sahabatku.

(Maaf udah janji mau masukin di blog ini dari hari kemarin, tapi baru sempat online sekarang jadi baru malam ini sy tulis di blog. Hehee)

(agustus,2012)

No comments:

Post a Comment