“Malam
melantunkan
rindu, lewat
cahaya-cahaya
di langit,
berdesir di
hatimu. Selamat
malam, Cinta
!”
Ruang
dan waktu
hanya perantara
untuk raga,
dan hati
kita akan
tetap terikat
meski tak
berada di
satu tempat.
Apa kau
percaya itu?!.
"Mengapa
kau menangis?",
Tuhan tak
marah, matamu
sudah terlalu
merah. Pundakku
basah. Sayang,
sudahi saja.
Aku tak
sanggup
melihatmu
menangis. Aku
masih
memelukmu...sayang
Aku tahu kau merindukanku. aku ada di sini untukmu. Mencintaimu bukan hanya soal kerinduan, namun kau adalah anugerah yang selalu aku nantikan.
Dan
sungguh, di
setiap jatuh
air mata,
aku selalu
bertanya;
adakah cinta
di dalamnya,
ataukah hanya
rindu yang
membuta?
"Peluk
aku lagi
seperti
kemarin,
seperti saat
hujan ketika
aku
kedinginan...sayang".
masih dengan
rintihan
tangismu.
Matamu
bagai gerimis
di malam
ini, pundak
ini sudah
basah, sudahi
tangismu.
sayang".
Apa karena
kamu rindu
ataukah kau
menangisi
cerita yang
kita lewatkan?
Lalu
kau berbisik
kepadaku.
"Rif...ajari
aku cara
mencintaimu.
Menyulam
mimpi-mimpi,
hingga kelak
nanti, agar
aku bisa
membingkai
wajahmu di
hatiku".
Dan
kini aku
tahu Linangan
air matamu
perlahan
membasahi mata
hati yang
merindukan
kehadiranku,
kerinduan akan
menjadi cerita
yang
mengekalkan
cinta kita,
hingga nanti,
saat menggores
kisahnya
kembali.
Dan
Jangan pernah
buat orang
yang
menyayangimu
menjatuhkan air
matanya hanya
karena kecewa
padamu Tapi,
buatlah air
matanya jatuh
karena dia
bangga punya
kekasih
sepertimu,
sayangilah dia
sepenuh hatimu,
berikanlah dia
kasih sayang
yang tulus
dan cintailah
dia dengan
kesungguhanmu,
sehingga
hatinya akan
terkesan
kemuliaan yang
paling indah
didalam
hidupnya..
Cerita
kita takkan
pernah usai,
lembaran baru
akan terus
terisi seperti
musim yang
tak lelah
bergulir. Ini
bagai aksara,
jika tersusun
untuk
menuliskan
keindahanmu,
maka hasilnya
akan lebih
indah dari
sekumpulan
kata.
(arief,30Juli2012)
No comments:
Post a Comment