Thursday, 2 August 2012

“Kau dan Rindu”


Malam melantunkan rindu, lewat cahaya-cahaya di langit, berdesir di hatimu. Selamat malam, Cinta !

Ruang dan waktu hanya perantara untuk raga, dan hati kita akan tetap terikat meski tak berada di satu tempat. Apa kau percaya itu?!. "Mengapa kau menangis?", Tuhan tak marah, matamu sudah terlalu merah. Pundakku basah. Sayang, sudahi saja. Aku tak sanggup melihatmu menangis. Aku masih memelukmu...sayang


Aku tahu kau merindukanku. aku ada di sini untukmu. Mencintaimu bukan hanya soal kerinduan, namun kau adalah anugerah yang selalu aku nantikan.

Dan sungguh, di setiap jatuh air mata, aku selalu bertanya; adakah cinta di dalamnya, ataukah hanya rindu yang membuta?

"Peluk aku lagi seperti kemarin, seperti saat hujan ketika aku kedinginan...sayang". masih dengan rintihan tangismu.

Matamu bagai gerimis di malam ini, pundak ini sudah basah, sudahi tangismu. sayang". Apa karena kamu rindu ataukah kau menangisi cerita yang kita lewatkan?

Lalu kau berbisik kepadaku. "Rif...ajari aku cara mencintaimu. Menyulam mimpi-mimpi, hingga kelak nanti, agar aku bisa membingkai wajahmu di hatiku".

Dan kini aku tahu Linangan air matamu perlahan membasahi mata hati yang merindukan kehadiranku, kerinduan akan menjadi cerita yang mengekalkan cinta kita, hingga nanti, saat menggores kisahnya kembali.

Dan Jangan pernah buat orang yang menyayangimu menjatuhkan air matanya hanya karena kecewa padamu Tapi, buatlah air matanya jatuh karena dia bangga punya kekasih sepertimu, sayangilah dia sepenuh hatimu, berikanlah dia kasih sayang yang tulus dan cintailah dia dengan kesungguhanmu, sehingga hatinya akan terkesan kemuliaan yang paling indah didalam hidupnya..

Cerita kita takkan pernah usai, lembaran baru akan terus terisi seperti musim yang tak lelah bergulir. Ini bagai aksara, jika tersusun untuk menuliskan keindahanmu, maka hasilnya akan lebih indah dari sekumpulan kata.

(arief,30Juli2012)

No comments:

Post a Comment