Monday, 16 July 2012

"Kau Dan Aku Di Kota Ini"


"Aku dan kamu bagai karang pantai yang mencintai laut lepas. Hanya dari jauh aku mencintaimu dengan seluruh kekuranganku. Menatap senyummu saat bersama mereka saat itu. Melihat rambut yang bergelombang itu dan kilau cahaya mata yang berbinar, memb
uatku terpaku menatapmu dari jauh, saat itu. meneggelamkanku dalam buaian hayalan untuk bisa memiliki cintamu". Entah apa yang saat itu aku tak memiliki keberanian mengatakan "Aku mencintaimu".

Hanya dari kejauhan aku mengagumi dirimu. Andai saat itu kukatakan padamu salam cinta dariku. Namun kata itu sulit terucap dari keluhnya bibir ini untuk berkata "Aku mencintaimu". Apakah Kata itu benar-benar akan sampai kepadamu suatu saat nanti?

Aku yang selalu berharap hingga saatnya kita bertemu. Untuk bisa mengatakan hal yang selama ini kupendam. Namun kini kita berada di kota yang berbeda. Apakah kamu masih akan mengingatku, sedangkan kamu tidak pernah dekat denganku sebelumnya, bahkan untuk sepatahkata pun kita tak pernah saling menyapa sebelunya. Aku yang hanya bisa mengagumimu dari kejauhan dan memendam perasaan ini saat kamu bersama yang lain.

Di Kota ini aku dan kamu bertemu kembali. Berawal dari ketidak sengajaanku memperhatikanmu. Aku merasa pernah mengenal kamu sebelumnya. Aku merasa kamu tak asing bagiku. tapi kenapa aku lupa dengan namamu. "Siapa namanya?", tanyaku dalam hati. Lalu kamu memanggilku, "Kak fakhrul ya?", "ia." jawabku. Tapi aku masih lupa dengan namanya. Senyum itu masih seperti dulu saat kita SMA. Ku coba tuk bertanya dengan hal lain. "kamu kuliah dimana?", tanyaku. Dia menyebutkan tempat dia kuliah, "saya kuliah di Stikper Gunungsari". Dia merasa kalau kami pernah saling mengenal sebelumnya. ternyata memang benar seperti itu. Lalu aku dan temanku pergi untuk mengambil kiriman di perwakilan, karena pada saat itu aku akan mengambil kirimanku di perwakilan. Setelah kembali aku mencari dia. Meminta salah satu temannya untuk memanggilnya karena aku ingin minta nomor telfonnya. Dia datang dan memberikan nomor telfonnya. Lalu aku tanyakan namanya karena lupa. "Oia, nama kamu siapa, aku lupa ?". Dan sebenarnya aku malu karena namanya saja aku sudah lupa. "Namaku Elsya ", jawabnya. saat itu aku baru ingat. Dengan senyum yang masih malu-malu kepadaku dia kembali masuk ke kamar temannya. Pada saat itu dia berada di kost temannya.

Malamnya aku mencoba untuk menelfonnya. Dia menerima panggilanku. Tapi kami hanya ngobrol sebentar saja. malam berikutnya pun seperti itu. Kami pun mulai akrab saat ngobrol di telfon. Yang sering aku tanyakan kenapa baru sekarang kami bisa akrab, kenapa bukan disaat kami masih di SMA. Aku tahu kenapa. Karena saat kami masih SMA dulu aku melihat sepertinya dia orangnya pemalu dan cuek dengan cowok yang tidak pernah mengajaknya ngobrol. Seperti aku ini yang tidak pernah tahu harus mulai dari mana untuk memulai pembicaraan. Akhirnya setelah kami bertemu. Aku tahu dia orangnya asik sekali di ajak ngobrol. Ceritana nyambung, suka bercanda, dia juga suka ketawa dan dia cantik.

Malam selanjutnya. Aku mulai merasa kalau aku suka sama dia. Ini bukan kali pertama aku menyukainya. Aku sudah suka sama dia sejak SMA. Hanya saja aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Aku berpikir mungkin inilah saatnya aku memberitahukan kepadanya kalau aku sayang sama dia. Aku tidak yakin kalau dia tidak punya pacar. karena pasti banyak yang suka dengan dia. Setiap kali aku nelfon dan ingin menanyakan kalau dia sudah punya pacar atau belum. Keberanian untuk mengungkapkan perasaanku tidak pernah ada. Apa yang sebenarnya aku rasakan ini. Aku tidak ingin ketakutan ini membayangiku setiap malam.

Sampai pada malam berikutnya. Malam minggu. saat itu kami ngobrol di telfon. aku memberanikan untuk menanyakan apa dia masih sendiri atau memang dia sudah punya kekasih. Menanyakan hal itupun aku sangat gugup. Sampai harus tarik nafas berkali kali. Ternyata dia tidak punya pacar. Memang banyak yang suka sama dia tapi dia tidak pernah menerima cowok yang menyukainya. Lalu aku menyatakan perasaanku padanya. "Aku menyayangimu, aku suka sama kamu, apa kamu mau menjadi pacaarku?" Tapi dia belum bisa menjawab pertanyaanku. meminta waktu 2 hari untuk berpikir. Saat itu. Aku tidak mengerti dengan parasaanku yang tiba-tiba pesimis kalau dia tidak bisa menerimaku sebagai pacarnya. Aku selalu mencoba untuk meyakinkan diri ini. Aku tahu banyak yang suka sama dia jadi aku berpikir dia tidak akan menerimaku jadi kekasihnya.

Kini tiba malam di mana dia akan memberikan jawaban atas pertanyaanku. Tapi hanya lewat telfon. Sebelunya kami ngobrol biasa saja. Saat asyik ngobrol, aku menanyakan hal yang sama speerti malam minggu kemarin. Aku bersyukur Dia menerimaku untuk jadi pacarnya. Kami resmi pacaran Pada 10 januari 2012. Hal yang membuat aku bahagia. setelah mendengar jawabannya. Malam yang sungguh berkesan bagi kami.

menjalani hubungan bersamanya namun jaranng sekali kami bertemu. Karena kami sama-sama sibuk jadinya kami susah untuk bertemu saat ini. Sesekali kami bertemu namun kami tak pernah merencanakan untuk bertemu. setiap kali kami janjian untuk bertemu selalu tidak bisa. Tanpa sengaja kami bertemu hari itu. Kami berbincang dalam kebisingan disekitar. Dengan senyum manis dia pergi karena pagi itu dia masuk kuliah. Ini ke empat kalinya kami bertemu. Masih tanpa sengaja.

Setiap malam ketika berbincang di telfon, aku selalu memintanya untuk bertemu. dan aku tahu dia pasti tidak bisa karena akhir ini dia masih sibuk dengan kegiatan kampus. Aku menjadi seperti ini agar dia bisa merasakan kerinduan yang aku alami saat ini. Aku berusaha untuk meyaknkan dia, kalau aku ini memang serius untuk menjalani hubungan ini dengannya. Aku sudah yakin dan niatku sudah mantap bersamanya. Yakin sepenuhnya, ingin menjaganya, menghiburnya saat dia dalam kesedihan,kesendirian, dan saat dia membutuhkanku aku ingin ada di dekatnya. namun saat ini dia belum begitu yakin kepadaku. 90% keyakinannya terhadapku. 10% dimana?

Aku yakin nanti akan ada saatnya dia percaya sama aku. Berusaha sebaik mungkin dan menjadi pribadi yang apa adanya. itulah sikap yang aku tunjukkan. Dia mejadikanku orang yang berbeda dari orang yang dia jumpai sebelumnya. Dia juga gadis yang pertama kali pernah menangisiku saat aku tidak memberinya kabar di hari itu. Aku semakin yakin dengannya untuk tetap bersamanya dan menjaga cinta kami. Dia begitu tulus mencintaiku dan menerimaku apa adanya.

Untuk membuatnya bertahan denganku dia minta agar aku tak membuatnya bosan. Menurutnya itu itu hal yang sangat mudah untuk aku lakukan, tapi menurutku tidak. Tak semudah itu untuk bisa mengetahui karakternya, aku berusaha mengetahui karakternya agar aku bisa tahu yang dia inginkan setiap waktunya. Aku berusaha menjadi terbaik untuknya agar dia percaya kalau aku memang sudah mantap untuk bersamanya. Baginya mungkin aku orang yang baru dalam kehidupannya karena selama kami satu sekolah dulu kami tidak pernah ngobrol bersama, karena saat itu, yang ku tahu dari sifatnya kalau dia orangnya pemalu, cuek dengan orang yang baru dia kenal. Namun saat ini aku sudah tahu kalau dia orangnya asyik di ajak ngobrol,suka bercanda, sering shere pendapat, dia orangnya menyenangkan.


Kini dia sudah percaya sepenuhnya kalau aku benar-benar manyayanginya,kini sudah 100%. Itu tanggungjawabku untuk menjaga kepercayaannya, Perasaan sayang itu kepadaku. Dia pernah mengatakan kalau dia tidak ingin lagi seperti kisah sebelumnya. hanya mempermainkan perasaan orang yang menyayanginya. Aku yakin dia tidak akan seperti itu lagi. Dia sudah dewasa.

@arief.philein // Kau & Aku Di Kota ini
***

No comments:

Post a Comment