"Aku dan kamu
bagai karang pantai yang
mencintai laut lepas. Hanya
dari jauh aku mencintaimu
dengan seluruh kekuranganku.
Menatap senyummu saat
bersama mereka saat itu.
Melihat rambut yang
bergelombang itu dan kilau
cahaya mata yang berbinar,
memb
uatku terpaku menatapmu dari jauh, saat itu. meneggelamkanku dalam buaian hayalan untuk bisa memiliki cintamu". Entah apa yang saat itu aku tak memiliki keberanian mengatakan "Aku mencintaimu".
uatku terpaku menatapmu dari jauh, saat itu. meneggelamkanku dalam buaian hayalan untuk bisa memiliki cintamu". Entah apa yang saat itu aku tak memiliki keberanian mengatakan "Aku mencintaimu".
Hanya dari
kejauhan aku mengagumi
dirimu. Andai saat itu
kukatakan padamu salam
cinta dariku. Namun kata
itu sulit terucap dari
keluhnya bibir ini untuk
berkata "Aku mencintaimu".
Apakah Kata itu benar-benar
akan sampai kepadamu suatu
saat nanti?
Aku yang
selalu berharap hingga
saatnya kita bertemu. Untuk
bisa mengatakan hal yang
selama ini kupendam. Namun
kini kita berada di
kota yang berbeda. Apakah
kamu masih akan
mengingatku, sedangkan kamu
tidak pernah dekat denganku
sebelumnya, bahkan untuk
sepatahkata pun kita tak
pernah saling menyapa
sebelunya. Aku yang hanya
bisa mengagumimu dari
kejauhan dan memendam
perasaan ini saat kamu
bersama yang lain.
Di Kota ini
aku dan kamu bertemu
kembali. Berawal dari
ketidak sengajaanku memperhatikanmu.
Aku merasa pernah mengenal
kamu sebelumnya. Aku merasa
kamu tak asing bagiku.
tapi kenapa aku lupa
dengan namamu. "Siapa
namanya?", tanyaku dalam
hati. Lalu kamu
memanggilku, "Kak fakhrul
ya?", "ia." jawabku.
Tapi aku masih lupa
dengan namanya. Senyum itu
masih seperti dulu saat
kita SMA. Ku coba
tuk bertanya dengan hal
lain. "kamu kuliah
dimana?", tanyaku. Dia
menyebutkan tempat dia
kuliah, "saya kuliah
di Stikper Gunungsari".
Dia merasa kalau kami
pernah saling mengenal
sebelumnya. ternyata memang
benar seperti itu. Lalu
aku dan temanku pergi
untuk mengambil kiriman di
perwakilan, karena pada
saat itu aku akan
mengambil kirimanku di
perwakilan. Setelah kembali
aku mencari dia. Meminta
salah satu temannya untuk
memanggilnya karena aku
ingin minta nomor
telfonnya. Dia datang dan
memberikan nomor telfonnya.
Lalu aku tanyakan namanya
karena lupa. "Oia,
nama kamu siapa, aku
lupa ?". Dan
sebenarnya aku malu karena
namanya saja aku sudah
lupa. "Namaku Elsya ",
jawabnya. saat itu aku
baru ingat. Dengan senyum
yang masih malu-malu
kepadaku dia kembali masuk
ke kamar temannya. Pada
saat itu dia berada
di kost temannya.
Malamnya aku
mencoba untuk menelfonnya.
Dia menerima panggilanku.
Tapi kami hanya ngobrol
sebentar saja. malam
berikutnya pun seperti itu.
Kami pun mulai akrab
saat ngobrol di telfon.
Yang sering aku tanyakan
kenapa baru sekarang kami
bisa akrab, kenapa bukan
disaat kami masih di
SMA. Aku tahu kenapa.
Karena saat kami masih
SMA dulu aku melihat
sepertinya dia orangnya
pemalu dan cuek dengan
cowok yang tidak pernah
mengajaknya ngobrol. Seperti
aku ini yang tidak
pernah tahu harus mulai
dari mana untuk memulai
pembicaraan. Akhirnya setelah
kami bertemu. Aku tahu
dia orangnya asik sekali
di ajak ngobrol. Ceritana
nyambung, suka bercanda,
dia juga suka ketawa
dan dia cantik.
Malam selanjutnya.
Aku mulai merasa kalau
aku suka sama dia.
Ini bukan kali pertama
aku menyukainya. Aku sudah
suka sama dia sejak
SMA. Hanya saja aku
tidak punya keberanian
untuk mengungkapkannya. Aku
berpikir mungkin inilah
saatnya aku memberitahukan
kepadanya kalau aku sayang
sama dia. Aku tidak
yakin kalau dia tidak
punya pacar. karena pasti
banyak yang suka dengan
dia. Setiap kali aku
nelfon dan ingin menanyakan
kalau dia sudah punya
pacar atau belum.
Keberanian untuk mengungkapkan
perasaanku tidak pernah
ada. Apa yang sebenarnya
aku rasakan ini. Aku
tidak ingin ketakutan ini
membayangiku setiap malam.
Sampai pada
malam berikutnya. Malam
minggu. saat itu kami
ngobrol di telfon. aku
memberanikan untuk menanyakan
apa dia masih sendiri
atau memang dia sudah
punya kekasih. Menanyakan
hal itupun aku sangat
gugup. Sampai harus tarik
nafas berkali kali.
Ternyata dia tidak punya
pacar. Memang banyak yang
suka sama dia tapi
dia tidak pernah menerima
cowok yang menyukainya.
Lalu aku menyatakan
perasaanku padanya. "Aku
menyayangimu, aku suka sama
kamu, apa kamu mau
menjadi pacaarku?" Tapi
dia belum bisa menjawab
pertanyaanku. meminta waktu
2 hari untuk berpikir.
Saat itu. Aku tidak
mengerti dengan parasaanku
yang tiba-tiba pesimis
kalau dia tidak bisa
menerimaku sebagai pacarnya.
Aku selalu mencoba untuk
meyakinkan diri ini. Aku
tahu banyak yang suka
sama dia jadi aku
berpikir dia tidak akan
menerimaku jadi kekasihnya.
Kini tiba
malam di mana dia
akan memberikan jawaban
atas pertanyaanku. Tapi
hanya lewat telfon.
Sebelunya kami ngobrol
biasa saja. Saat asyik
ngobrol, aku menanyakan hal
yang sama speerti malam
minggu kemarin. Aku
bersyukur Dia menerimaku
untuk jadi pacarnya. Kami
resmi pacaran Pada 10
januari 2012. Hal yang
membuat aku bahagia.
setelah mendengar jawabannya.
Malam yang sungguh berkesan
bagi kami.
menjalani hubungan
bersamanya namun jaranng
sekali kami bertemu. Karena
kami sama-sama sibuk
jadinya kami susah untuk
bertemu saat ini. Sesekali
kami bertemu namun kami
tak pernah merencanakan
untuk bertemu. setiap kali
kami janjian untuk bertemu
selalu tidak bisa. Tanpa
sengaja kami bertemu hari
itu. Kami berbincang dalam
kebisingan disekitar. Dengan
senyum manis dia pergi
karena pagi itu dia
masuk kuliah. Ini ke
empat kalinya kami bertemu.
Masih tanpa sengaja.
Setiap malam
ketika berbincang di
telfon, aku selalu
memintanya untuk bertemu.
dan aku tahu dia
pasti tidak bisa karena
akhir ini dia masih
sibuk dengan kegiatan
kampus. Aku menjadi seperti
ini agar dia bisa
merasakan kerinduan yang
aku alami saat ini.
Aku berusaha untuk
meyaknkan dia, kalau aku
ini memang serius untuk
menjalani hubungan ini
dengannya. Aku sudah yakin
dan niatku sudah mantap
bersamanya. Yakin sepenuhnya,
ingin menjaganya, menghiburnya
saat dia dalam
kesedihan,kesendirian, dan saat
dia membutuhkanku aku ingin
ada di dekatnya. namun
saat ini dia belum
begitu yakin kepadaku. 90%
keyakinannya terhadapku. 10%
dimana?
Aku yakin
nanti akan ada saatnya
dia percaya sama aku.
Berusaha sebaik mungkin dan
menjadi pribadi yang apa
adanya. itulah sikap yang
aku tunjukkan. Dia
mejadikanku orang yang
berbeda dari orang yang
dia jumpai sebelumnya. Dia
juga gadis yang pertama
kali pernah menangisiku
saat aku tidak memberinya
kabar di hari itu.
Aku semakin yakin dengannya
untuk tetap bersamanya dan
menjaga cinta kami. Dia
begitu tulus mencintaiku
dan menerimaku apa adanya.
Untuk membuatnya
bertahan denganku dia minta
agar aku tak membuatnya
bosan. Menurutnya itu itu
hal yang sangat mudah
untuk aku lakukan, tapi
menurutku tidak. Tak
semudah itu untuk bisa
mengetahui karakternya, aku
berusaha mengetahui karakternya
agar aku bisa tahu
yang dia inginkan setiap
waktunya. Aku berusaha
menjadi terbaik untuknya
agar dia percaya kalau
aku memang sudah mantap
untuk bersamanya. Baginya
mungkin aku orang yang
baru dalam kehidupannya
karena selama kami satu
sekolah dulu kami tidak
pernah ngobrol bersama,
karena saat itu, yang
ku tahu dari sifatnya
kalau dia orangnya pemalu,
cuek dengan orang yang
baru dia kenal. Namun
saat ini aku sudah
tahu kalau dia orangnya
asyik di ajak ngobrol,suka
bercanda, sering shere
pendapat, dia orangnya
menyenangkan.
Kini dia sudah
percaya sepenuhnya kalau
aku benar-benar manyayanginya,kini
sudah 100%. Itu
tanggungjawabku untuk menjaga
kepercayaannya, Perasaan sayang
itu kepadaku. Dia pernah
mengatakan kalau dia tidak
ingin lagi seperti kisah
sebelumnya. hanya mempermainkan
perasaan orang yang
menyayanginya. Aku yakin
dia tidak akan seperti
itu lagi. Dia sudah
dewasa.
@arief.philein // Kau
& Aku Di Kota ini
***
No comments:
Post a Comment