Kisah
aneh bin menyebalkan. Suka sama orang yang di ragukan perasaannya
kepada kita, hanya kita yang sudah merasa mantap naksir sama dia,
tapi sungguh disayangkan dan mengecewakan karena setelah kita tahu
dia ternyata ngak suka sama kita. Lagu dangdut. Bergoyang dalam
kegalauan.
Yang
saya ceritakan saat ini pengalaman sendiri. Tapi menurut
penganalisaan saya, berdasarkan beberapa orang yang bercerita tentang
pengalamannya sendiri kepada saya, ternyata mereka juga pernah
ngalamin hal yang sama. Ayo kita GALAU...!!
Perasaan
kita ngak sama. Kadang perasaan kita sudah suka sama orang itu,
bahkan pertama kali bertemu,biasanya rasa suka itu cepat sekali
muncul, tanpa ada peringatan lonceng yang berbunyi tiga kali, dan
tidak ada klakson untuk peringaatan datangnya rasa suka itu, karena
rasa suka itu tiba-tiba ngebut dalam hati kita, tapi belum tentu dia
memiliki perasaan yang sama dengan kita. Karena dari itu kata bijak
mengatakan “siapa yang tahu hati seseorang?”
kalau
perasaan ngebut itu belum muncul saat pertemuan pertama, itu mungkin
hanya butuh waktu untuk menyesuaikan, untuk saling mengenal satu sama
lain. Setelah tahap perkenalan dan sudah begitu saling kenal,
biasanya rasa suka itu akan tumbuh tanpa kita sadari, tapi kita akan
tau saat kita sudah bertingkah aneh dan sikap kita sudah tidak biasa
lagi kepada dia. Seperti halnya, saat kita tahu dia bersama dengan
orang lain, atau bersama dengan cowo lain (kalau kita ini cowo ya),
seakan hati ingin berteriak dan mengatakan kepadanya “aku cemburu
tau!?”, tapi sebagai seorang cowo, kadang mengungkapin kata itu
sangat sulit, biasanya karena gengsi, tapi pada dasarnya kita
sebenarnya memang cemburu, tapi meskipun kita tidak mengungkapkan
kata-kata itu, mereka sudah tahu dari sikap kita saat itu. Jadi
sebenarnya perasaan kita sulit juga untuk di sembunyikan.
Kembali
mengenalnya. Katika saya bertemu kembali dengan sahabat lama saya
saat di SD. Kami bertemu kembali saat duduk di bangku kuliah, saya
kembali harus mengenalinya karena perpisahan yang begitu lama, kami
sudah sama-sama dewasa saat ini. Memang sudah saatnya untuk saling
jatuh cinta karena kami sudah mengenal apa itu cinta.
Seminggu
setelah pertemuan. Saat itulah saya mulai menyukainya, tapi saya
belum mengatakan padanya. Saya tidak mau kalau dia tahu kalau aku ini
termasuk seseorang yang mudah sekali jatuh cinta, dan saya yakin dia
pasti tidak akan percaya kalau aku serius jatuh cinta. Sampai harus
brdiam diri dalam kegalauan. Galau sendiri lagi.
Hari demi hari berlalu, musim berganti dan cinta ini semakin meyakinkanku... Inil4h g4y4 4l4y.
Setelah
menempuh pertapaan dari lima gunung paling angker, dan saya sendiri
ngak tau dimana itu, ini ilusi pikiranku. Hahha.
Ok,
serius !!. saya tidak ingin menunda lagi, saya harus mengatakannya
agar saya bisa terbebas dari kegalauan yang berkepanjangan. Akhirnya
saya harus mengungkapkan perasaanku bahwa aku sudah menyukainya
setelah beberapa hari mengenalnya, tapi ini sungguh tidak romantis
dan tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Saya harus mengatakan
itu lewat telfon. Ini misi rahasia atau pernyataan perasaan ya?!,
pikirku.
Tapi
itu tidak membuahkan hasil, malah harus mendengarkan dia menjelaskan
tentang cinta dan perasaan suka, seperti itulah temanya malam itu
saat saya menyatakan perasaan suka.
Sampai
beberapa hari, beberapa bulan, dan bersemedi dalam goa sendirian,
masih ilusi pikiran.
Dia
ingin aku mengenalnya lebih dekat lagi, dan dia pernah mengatakan;
“cobalah untuk menunggu”. Padahal semua juga tahu kalau menunggu
itu sangat membosankan, iya kan?!.
Sampai
pada akhirnya saya hanya bisa mengikuti apa maunya, mulai saat itu
saya sudah tidak pernah membahas tentang rasa suka itu.
Kini
aku mengerti. Malam itu saya ingin bertemu dengan dia dan kami
bertemu di depan kampusnya, tapi sebenarnya dia sedang menunggu
seseorang yang akan mengantarnya untuk pulang, seorang cowo. Kami
sempat ngobrol beberapa menit sebelum cowo itu datang, saya tidak
menanyakan tentang cowo itu, kami ngobrol seperti biasanya, hingga
pada akhirnya cowo itu datang dan dia pergi menemui cowo itu lalu
motor mereka melaju. Melihat dia dari seberang jalan. Lalu saya pun
pulang bersama temanku.
Beberapa
menit setelah sampai di rumah, aku mengirimkan sms, menanyakan dia
dimana, sampai menanyakan cowo yang mengantarnya pulang malam itu.
Ternyata dugaan saya benar, cowo itu memang pacarnya. Kecewa dengan
kata “menunggu”, ternyata kata menunggu itu sama juga dengan
menanti, sama-sama membosankan dan tanpa sebuah kepastian, padahal
dia pernah mengatakan kalau “menunggu dan menanti itu berbeda”,
bedanya dimana?;
Katanya
kalau menunggu itu ada “kepastian”, sedangkan menanti “tidak
ada kepastian”. Tapi setelah semua terjadi aku tahu, itu semua
sama, itu hanya bumbu kata manisnya saja, hanya ingin membuatku
senang dan terus berharap padanya.
“Aku
tidak menyalahkanmu atas apa yang telah terjadi, ini memang salah
saya karena mencintaimu”.
“Aku
akan selalu mendo'akan agar kau tetap bahagia, meskipun bukan aku
yang meberikan kebahagiaan itu”.
“Inilah
jawaban tuhan dari caraku mencintaimu”.
“Tak
perlu kau tanyakan, aku cemburu atau tidak, karena sebagai seseorang
yang sudah terlanjur menyukaimu itu sudah pasti”.
“Saat
ini untuk cemburu pun aku tak berhak”.
Sekian
dulu cerita patah hati ini sobat bloger, semoga cerita ini bisa
memberikan pelajaran dan kita bisa lebih waspada dengan perasaan yang
ngebut bahkan juga perasaan yang pelan tapi ngak pasti, karena itu
akan sangat menyakitkan ketika kita harus melihat dia bersama orang
lain tanpa bisa berbuat banyak.
Salam
Bloger Anak bangsa
No comments:
Post a Comment