Ayah, Ibu...
Aku ingin bercerita tentang mereka
Saat aku masih di desa, saat aku masih
SMA... dulu.
Aku kini sudah berada di kota yang sama
dengan mereka. Dia.lah keluarga kita.
Yang pernah ayah dan Ibu ceritakan
padaku
Mungkin karena saat itu aku msih begitu
polos untuk
mengenal mereka
Aku belum mengenal siapa dan bagaimana
mereka.
Dan kini. Aku sudah di perantauan
bersama dengan mereka.
Ayah dan Ibu pernah bilang padaku :
'nak, kalau kamu sudah sampai di kota
itu, temuilah mereka. Mereka.lah yang akan membantu kamu...nak”.
Tapi apa kenyataannya sekarng.
Mereka yang sibuk dengan urusan
masing-masing
Mereka hanya terlihat baik ketika Ayah
dan Ibu datang
Saat aku lagi membutuhkan bantuan
mereka..
Mereka semua tidak pernah muncul bahkan
menanyakan kabar pun... mereka tak pernah!!
Dimana mereka ?!
Tapi Saat aku punya kesalahan di mata
mereka.
Kalian lihat!!
Mereka akan berlomba untuk
menanyakanku.
“Dimana anak nakal itu. Apa yang dia
perbuat ??”
Ayah, Ibu...
Kalian lihat dan dengar sendiri...
Mereka itu hanya mencari celah
kesalahnku.
Tidak.kah mereka prihatin dengan
keadaanku
Apa yang mereka berikan??
Hanya nasehat??
Aku rasa Ayah dan Ibu.ku.lah yang
paling tepat untuk memberiku nasehat.
Hanya orang tuaku.lah yang selalu aku
andalkan.
Memang mereka juga pernah merasakan
hidup di perantauan
tapi hidup mereka tidak seperti yang ku
rasakan saat ini.
Mereka terus saja membandingkan
kehidupan mereka dulu dengan aku yang sekarang ini.
Memang tak sama dan tak perlu.lah
mereka ungkit-ungkit hidup mereka yang dulu.
Ayah, Ibu...
Hanya Kalian yang mengerti dengan
hidupku
Aku bangga pada Kalian
Aku sangat bersyukur memiliki Kalian
(Ayah,Ibu).
Aku janji...
Akan membanggakan kalian nantinya
Aku ingin menunjukkan kepada mereka
Terima Kasih untukmu
Ayahku dan Ibuku
Yang tidak pernah bosan memberikan
nasehat kepadaku
Tak pernah lelah mencari nafkah untuk
keluarga dan anakmu ini
Meski terkadang kalian harus menapaki
hutan belantara
mendaki gunung untuk kebutuhan
sehari-hari
Dan aku mendengar suara tangismu saat
malam
yang merintih kesakitan, karena kalian
kelelahan
hingga aku meneteskan air mata karena
sudah tak bisa membendungnya lagi
aku sudah bertekad dalam hati :
“Jika saatnya nanti, aku akan
tunjukkan bahwa aku juga bisa menjadi anak yang berbakti'.
Arief,3Sept2012


No comments:
Post a Comment