Tuesday, 4 September 2012

"Jeritan Anak Perantau"

Ayah, Ibu...
Aku ingin bercerita tentang mereka
Ya. Mereka yang selalu kita banggakan, mereka yang selalau kita puji dan kita sanjung.
Saat aku masih di desa, saat aku masih SMA... dulu.

Aku kini sudah berada di kota yang sama dengan mereka. Dia.lah keluarga kita.
Yang pernah ayah dan Ibu ceritakan padaku
Mungkin karena saat itu aku msih begitu polos untuk
mengenal mereka
Aku belum mengenal siapa dan bagaimana mereka.

Dan kini. Aku sudah di perantauan bersama dengan mereka.
Ayah dan Ibu pernah bilang padaku :
'nak, kalau kamu sudah sampai di kota itu, temuilah mereka. Mereka.lah yang akan membantu kamu...nak”.

Tapi apa kenyataannya sekarng.
Mereka yang sibuk dengan urusan masing-masing
Mereka hanya terlihat baik ketika Ayah dan Ibu datang
Saat aku lagi membutuhkan bantuan mereka..
Mereka semua tidak pernah muncul bahkan menanyakan kabar pun... mereka tak pernah!!

Dimana mereka ?!

Tapi Saat aku punya kesalahan di mata mereka.
Kalian lihat!!

Mereka akan berlomba untuk menanyakanku.

“Dimana anak nakal itu. Apa yang dia perbuat ??”

Ayah, Ibu...

Kalian lihat dan dengar sendiri...
Mereka itu hanya mencari celah kesalahnku.
Tidak.kah mereka prihatin dengan keadaanku

Apa yang mereka berikan??

Hanya nasehat??

Aku rasa Ayah dan Ibu.ku.lah yang paling tepat untuk memberiku nasehat.
Hanya orang tuaku.lah yang selalu aku andalkan.

Memang mereka juga pernah merasakan hidup di perantauan
tapi hidup mereka tidak seperti yang ku rasakan saat ini.
Mereka terus saja membandingkan kehidupan mereka dulu dengan aku yang sekarang ini.
Memang tak sama dan tak perlu.lah mereka ungkit-ungkit hidup mereka yang dulu.


Ayah, Ibu...

Hanya Kalian yang mengerti dengan hidupku
Aku bangga pada Kalian
Aku sangat bersyukur memiliki Kalian (Ayah,Ibu).

Aku janji...
Akan membanggakan kalian nantinya
Aku ingin menunjukkan kepada mereka
Bahwa anakmu ini juga bisa tanpa mereka

Terima Kasih untukmu
Ayahku dan Ibuku

Yang tidak pernah bosan memberikan nasehat kepadaku
Tak pernah lelah mencari nafkah untuk keluarga dan anakmu ini

Meski terkadang kalian harus menapaki hutan belantara
mendaki gunung untuk kebutuhan sehari-hari

Dan aku mendengar suara tangismu saat malam
yang merintih kesakitan, karena kalian kelelahan
hingga aku meneteskan air mata karena sudah tak bisa membendungnya lagi
aku sudah bertekad dalam hati :
“Jika saatnya nanti, aku akan tunjukkan bahwa aku juga bisa menjadi anak yang berbakti'.


Arief,3Sept2012

No comments:

Post a Comment