kisah adalah perjalanan. Berawal dari langkah menapaki
jejak kehidupan yang menyimpan banyak tanya, “kemana aku nantinya?”.
Angina
meniupkan kenangan di masa lalu, kita sudah beranjak dari 2012 menuju 2013 saat
ini. Mengingatkan senyum kita yang dulu. Kau, dia dan mereka adalah orang
hebat, yang mampu mengajarkanku perjuangan, kehancuran, tawa, tangis, rindu dan
kecewa. Entah apa lagi yang ada di tahun ini…?
Di
sela-sela perangkap kehidupan ku coba bersujud dan menyerukan nama-MU Tuhan…
“Ya Rabb, ampunilah hambamu ini, jagalah hamaba, kuatkanlah hamba, jagalah orang tua hamba, guru-guru hamba, sahabat-sahabat hamba, dan ornag-orang yang menyayangi hamba, juga mereka yang tak menyukaiku… Amin”.
Begitulah caraku mengingat MEREKA.
Memang pedih mengarungi lautan kehidupan, tapi tanpa ombak apalah gunanya hidup. Itulah
rintangan dan takdirku yang harus aku lalui hingga aku sampai di daratan
kebahagiaan. Dan lagi aku bersujud pada-MU Ya Rabb.
Hingga
saat ini aku belum sampai di daratan itu, bahkan ketepian saja aku belum. Sampai
kappan mengarungi lautan ?, mungkin besok atau lusa, masih ku beratnya pada
diriku sendiri.
Kadang
dalam kabut malam aku menunggu saat-saat itu, tak kunjung aku melihat tepian,
bagaimana mungkin aku sampai di daratan? … terus ku dayung sampan kecil ini.
Merenung
dalam kesunyian. Aku sedih melihat diriku yang masih terombang ambing oleh
ombak, entah akan kemana…
Kembali
aku tersadar dari lamunan, aku tak sendiri. Disini ada sahabatku yang menemani.
Kesedihanku terkikis oleh keindahan, kehangatan, dan damai yang mengalir dari
canda mereka. Bagai keluarga, penat dan kesepianku hilang. Mulut kecil ini
berseru
“tetaplah disini sobat, kita terus bersama hingga di daratan kebahagiaan”.
Apapun
yang terjadi tak sepatutnya kita
menyerah, jika langkah sudah jauh, tak perlu lagi untuk kembali… meskipun kita
tak tahu kapan kita akan sampai.
Sahabat,
ini bukan batas akhir. Kita punya impian, aku punya impian, kau juga punya hal
itu. Masa lalu tak perlu kita sesalkan, itu memang sudah jalannya, bahwa apapun
yang sudah terjadi adalah nasehat untuk kita.
Gelombang
lautan sudah membawa kita sampai di laut nan luas ini bersama alunan simfoni
kehidupan yang baru.
“Eratkan genggaman tanganmu,sobat!!, jangan takut kita masih bersama dan sampan kecil ini masih kuat membawa kita ke tepian… kau percaya itu kan?!.
Gelombang.
“apa kau merasakan itu,sobat?
Angina tak bersahabat, angina berteriak seolah
memanggil kita tapi jangan takut, mereka hanya ingin bermain dengan kita”.
“Angina bukan memberontak, mereka tersenyum menyapa kita, tenangkan dirimu sobat!!”, aku sendiri berusaha tenangkan diriku.
“Aku tidak akan tertidur sampai aku melihat tepian, jika kau sudah merasa kantuk yang tak tertahankan, bersandarlah di bahuku dan jangan kau pikirkan lagi kita akan menang melawan gelombang karena kita tak mungkin bias melawannya, ikutilah alur dan alunan gelombang ini”.
“Kau harus yakin , jika esok masih ada matahari dan masih ada bayangan kita. Perjuangan hidup kita belum berakhir sampai disini, sobat!!”.
Angina
terus berhembus membawa dingin menusuk ke relung jiwa, dingin dan menggigil
tubuh ini, aku akan bertahan. Walau bingung dan hanya diam, raga yang terombang
ambing bersama sampan kecil, beroleng ke kiri lalu ke kanan entah akan kemana.
Larut
bersama malam. Ku pandang langit penuh bintang dan ada bulan, sayang bukan
purnama. Perlahan alunan ombak tak kurasakan lagi, hanya rasa damai dalam hati,
aku tidak takut lagi,,, .
Selamat
pagi!.
“sobat, matahari sudah menampakkan sinar dari peraduannya, bergembiralah karena masih ada pagi”.
“Disana.. ya itu disana… kita akan sampai di
tepian”. Terus ku mendayung hingga kami sampai di tepian. Ini
bukan fatamorgana lagi, kita telah sampai di tepian kebahagiaan. Inilah tujuan
kita sobat.
Demikianlah
sebuah cerita fiktif belaka dari hasil lamunan tengah malam yang hanya di
temani rokok surya dan the gelas. Entah cerita ini tentang apa mungkin
teman-teman bisa mengartikan sendiri dan memberikan makna untuk cerita saya di
atas. Wassalam. maret 2013

No comments:
Post a Comment